Pengertian Hipotesis

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Hipotesis ? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain:  jenis, fungsi, karakteristik dan prinsip.

Pengertian-Hipotesis

Pengertian Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sedangkan terhadap masalah riset yang kebenarannya mesti diuji secara empiris. Hipotesis mengaku hubungan apa yang anda cari atau hendak kita pelajari. Hipotesis merupakan keterangan sedangkan dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Oleh sebab itu, perumusan hipotesis menjadi sangat urgen dalam suatu penelitian.

Peneliti mesti tidak jarang kali bersikap tersingkap terhadap kenyataan dan benang merah terdahulu baik yang memperkuat maupun yang berlawanan dengan prediksinya. Jadi, dalam urusan ini telaah teoritik dan temuan riset yang relevan bermanfaat menjelaskan persoalan dan mendirikan prediksi bakal jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.


Pengertian Hipotesis Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat sejumlah pengertian hipotesis menurut keterangan dari para ahli, terdiri atas:


1. Berdasarkan keterangan dari Prof. Dr. S. Nasution

Hipotesis ialah dugaan mengenai apa yang anda amati dalam upaya guna memahaminya. (Nasution:2000).


2. Berdasarkan keterangan dari Berdasarkan keterangan dari Gay, Mills, Airasian (2009:71)Zikmund (1997:112)

Hipotesis ialah proposisi atau sangkaan belum terbukti bahwa tentatif menjelaskan kenyataan atau fenomena, serta bisa jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian.


3. Berdasarkan keterangan dari Erwan Agus Purwanto dan Dyah Ratih Sulistyastuti (2007:137)

Hipotesis ialah pernyataan atau dakwaan bahwa sedangkan masalah riset yang kebenarannya masih lemah (belum pasti benar) sampai-sampai harus diuji secara empiris.


4. Berdasarkan keterangan dari Mundilarso

Hipotesis ialah pernyataan yang masih lemah tingkat kebenaran yang masih mesti diuji dengan memakai teknik tertentu.


5. Berdasarkan keterangan dari Kerlinger (1973)

Hipotesis ialah pernyataan sangkaan hubungan antara dua variabel atau lebih.


6. Berdasarkan keterangan dari Bruce W. Tuckman (1972:75)

“Bisa didefinisikan sebagai ekspektasi mengenai menurut generalisasi dari hubungan yang dianggap antara variabel”.


7. Berdasarkan keterangan dari Best, John W, Kahn, James V (2003:11)

Memberikan resolusi “Penelitian atau hipotesis ilmiah ialah pernyataan afirmatif formal yang menebak hasil riset tunggal, keterangan sementara atau hubungan antara dua atau lebih variabel”.


8. Berdasarkan keterangan dari Nanang Martono (2010:57)

Hipotesis bisa didefinisikan sebagai jawaban sedangkan yang kebenarannya mesti diuji atau rangkuman benang merah secara teoritis yang didapatkan melalui tinjauan pustaka.


9. Berdasarkan keterangan dari James E Greighton dalam Nanang Martono (2010:57)

Hipotesis adalah sebuah sokongan tentative atau sedangkan yang menebak situasi yang bakal diamati.


10. Berdasarkan keterangan dari Lungberg dalam Nanang Martono (2010:57)

Mendefinisikan hipotesis sebagai suatu generalisasi yang mempunyai sifat tentative, suatu generalisasi tentative yang valid yang masih arus diuji.


11. Berdasarkan keterangan dari Goode dan Han dalam Nanang Martono (2010:58)

Hipotesis ialah sebuah proposisi yang mesti dimasukan guna menguji dan menilai validitas, suatu hipotesis mengaku apa yang bakal dicari.


12. Berdasarkan keterangan dari Nachmias dalam A Muri Yusuf (2005: 163)

Menyatakan bahwa hipotesis adalahjawaban tentative terhadap masalah-masalah penelitian. Jawaban itu ditetapkan dalam hubungan dalam format variabel bebas dan terikat.


13. Berdasarkan keterangan dari Fraenkel dan Wallen dalam A Muri yusuf (2005: 163)

Menyatakan hipotesis ialah :”a tentative, reasonable, testable assertion regarding the occurrence of certain behaviors, phenomena, or event: a prediction of study outcome”.


14. Berdasarkan keterangan dari A Muri Yusuf (2005: 163)

Hipotesis ialah kesimpulan sedangkan yang belum final; sebuah jawaban sementara; suatu sangkaan sementara; yang adalah konstruk peneliti terhadap masalah penelitian, yang mengaku hubungan antara dua variabel atau lebih. Kebenaran sangkaan tersebut mesti diperlihatkan melalui investigasi ilmiah.


Ciri Hipotesis yang Baik

Perumusan hipotesis yang baik dan benar mesti mengisi ciri-ciri sebagai berikut:

  • Hipotesis mesti ditetapkan dalam format kalimat pengakuan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
  • Hipotesis mengandung penyataan tentang hubungan antar sangat sedikit dua variabel penelitian.
  • Hipotesis mesti cocok dengan kenyataan dan dapat menjelaskan fakta.
  • Hipotesis mesti bisa diuji (testable). Hipotesis bisa duji secara spesifik mengindikasikan bagaimana variabel-variabel penelitian tersebut diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
  • Hipotesis mesti simpel (spesifik) dan terbatas, supaya tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.

Fungsi Hipotesis

Hipotesis bermanfaat untuk menyerahkan batasan serta memperkecil ruang lingkup penelitian, guna mempermudah pendataan dan pengolahan data, untuk memahami macam, jumlah dan hubungan variabel penelitian, untuk memahami variabel tak bebas yang mesti dikontrol “Umi Narimawati, 2007:59”.

Berdasarkan keterangan dari Ary Donald, hipotesis memiliki faedah dalam riset yaitu “Gulo, 2000:57”

  • Memberi keterangan tentang gejala-gejala serta mempermudah perluasan pengetahuan dalam sebuah bidang.
  • Mengemukakan pengakuan tentang hubungan dua konsep yang secara langsung bisa diuji dalam penelitian.
  • Memberi arah penelitian.
  • Memberi kerangka pada penyusunan benang merah penelitian.

Fungsi hipotesis menurut keterangan dari Prof. Dr. S. Nasution “2000” ialah:

  • Untuk menguji kebenaran teori.
  • Memberikan usulan baru guna mengembangkan suatub teori.
  • Memperluas pengetahuan penelitian tentang suatu fenomena yang sedang dipelajari.

Manfaat Hipotesis

Penetapan hipotesis dalam sebuah riset memberikan guna sebagai berikut:

  1. Memberikan batasan dan memperkecil cakupan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Mensiagakan peneliti untuk kondisi kenyataan dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai perangkat yang simpel dalam memfokuskan kenyataan yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam sebuah kesatuan urgen dan menyeluruh.
  4. Sebagai petunjuk dalam pengujian serta penyesuaian dengan kenyataan dan antar fakta.

Oleh karena tersebut kualitas guna dari hipotesis itu akan paling tergantung pada:

  1. Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
  2. Imajinasi dan pemikiran kreatif dari peneliti.
  3. Kerangka analisa yang dipakai oleh peneliti.
  4. Metode dan desain riset yang dipilih oleh peneliti.

Jenis-Jenis Hipotesis

Berdasarkan keterangan dari Thomas dalam riset dikenal dua jenis hipotesis yakni “Swarjana, 2012:39”:

  • Hipotesis Alternatif “Ha”
    Hipotesis pilihan disebut pun hipotesis kerja, Hipotesis ini mengaku adanya perbedaan satu variable dengan variable yang lainnya atau mengaku adanya hubungan diantara satu variabel dengan variabel yang lainnya atau dapat juga mengaku adanya pengaruh satu variabel dengan treatment terhadap variabel yang lainnya.
  • Hipotesis Nol “H0”
    Hipotesis nol merupakan hipotesis yang mengaku tidak adanya hubungan diantara variabel riset atau mengaku tidak adanya perbedaan diantara variabel riset atau dapat juga mengaku pengaruh satu variabel atau treatment terhadap variabel lainnya.

Hipotesis dipecah menjadi 2 (dua) kelompok “Juliandi, 2014:45-48” yaitu:


Hipotesis Statistik

Hipotesis statistik merupakan sebuah pengakuan matematis tentang suasana populasi yang ditinjau/diteliti. Suatu pengakuan akan ditetapkan sebagai pengakuan matematis andai dan melulu jika pengakuan tersebut disajikan dengan menggunakan simbol-simbol matematika. Hipotesis statistik dipecah menjadi dua yakni Hipotesis Nol “H0” dan hipotesis Alternatif “Ha”, Hipotesis statistik pun dapat dipisahkan menjadi hipotesis dua arah dan hipotesis satu arah.

Oleh sebab itu, simbolisasi hipotesis itu adalah:

Ha : m1≠ m2 (Hipotesis dua-arah) (kurang spesifik)

Ha : m1 > m2 (Hipotesis satu-arah) (tepat dan spesifik)

Atau

Ha : m1- m2 ≠ 0 (Hipotesis dua-arah)

Ha : m1 – m2 > 0 (Hipotesis satu-arah)


Hipotesis Penelitian

Hipotesis riset disebut pun dengan hipotesis substansi “substantive hypotesis” merupakan hipotesis yang berisi pernyataan tentang relasi antara dua variabel atau lebih cocok teori. Hipotesis substansional tidak bisa diuji, supaya dapat diuji mesti terlebih dahulu diterjemahkan menjadi hipotesis statistik. Hipotesis riset tidak ditulis memakai simbil H0 atau Ha, bakal tetapi melulu adalahsebuah kalimat atau pengakuan tentang apa yang diperkirakan berlaku guna populasi yang ditinjau yang mesti didukung oleh teori substansi yang relevan.


Menggali Hipotesis

Terdiri atas:


1. Bagi merumuskan hipotesis seorang peneliti dituntut guna dapat mencari sumber-sumber hipotesis. Untuk tersebut peneliti mesti:

  • Memiliki tidak sedikit informasi mengenai masalah yang bakal dipecahkan dengan cara tidak sedikit membaca literatur yang terdapat hubungannya dengan riset yang sedang dilaksanakan.
  • Memiliki keterampilan untuk memeriksa penjelasan tentang tempat, objek, dan hal-hal yang bersangkutan satu sama beda dalam gejala yang sedang diselidiki.
  • Memiliki keterampilan untuk menghubungkan suatu suasana dengan suasana yang beda yang cocok dengan kerangka teori dan bidang ilmu yang bersangkutan.

2. Dari sejumlah pendapat semua ahli,penggalian sumber-sumber hipotesis bisa berasal dari:

  • Ilmu pengetahuan dan definisi yang mendalam yang sehubungan dengan fenomena.
  • Wawasan dan definisi yang mendalam tentang sebuah fenomena.
  • Materi bacaan dan literatur yang valid.
  • Pengalaman pribadi sebagai sebuah reaksi terhadap fenomena.
  • Data pengalaman yang tersedia.
  • Analogi atau keserupaan dan adakalanya menggunakan khayalan yang berdasar pada fenomena.

3. Hambatan atau kendala dalam merumuskan hipotesis lebih tidak sedikit disebabkan sebab hal-hal:

  • Tidak adanya kerangka teori atau tidak terdapat pengetahuan mengenai kerangka teori yang jelas.
  • Kurangnya keterampilan peneliti untuk memakai kerangka teori yang ada.
  • Gagal berkenalan dengan teknik-teknik riset yang ada guna merumuskan ucapan-ucapan dalam menciptakan hipotesis secara benar.

Kesalahan dalam Perumusan Hipotesis dan Pengujian Hipotesis

Dalam perumusan hipotesis bisa saja terjadi kesalahan. Kesalahan dalam perumusan hipotesis terdapat dua macam yaitu:

  • Menolak hipotesis nihil yang seharusnya diterima, maka disebut kekeliruan alpha dan diberi simbol a atau dikenal dengan taraf signifikansi pengukuran.
  • Menerima hipotesis nihil yang seharusnya ditolak, maka disebut kekeliruan beta dan diberi simbol b.

Pada umumnya riset di bidang pendidikan dipakai taraf signifikansi 0.05 atau 0.01, sementara untuk riset kedokteran dan farmasi yang resikonya sehubungan dengan nyawa manusia, dipungut taraf signifikansi 0.005 atau 0.001 bahkan barangkali 0.0001. Misalnya saja ditentukan taraf signifikansi 5% maka bilamana kesimpulan yang didapatkan diterapkan pada populasi 100 orang, maka bakal tepat guna 95 orang dan 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.

Cara pengujian hipotesis didekati dengan pemakaian kurva normal. Penentuan harga guna uji hipotesis bisa berasal dari Z-score ataupun T-score. Apabila harga Z-score atau T-score terletak di wilayah penerimaan Ho, maka Ha yang dirumuskan tidak diterima dan sebaliknya.


Contoh Hipotesis

Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sedangkan yang masih praduga untuk sebuah masalah. Dalam urusan ini untuk memperlihatkan keberaran hipotesa, maka perlu dilaksanakan sebuah riset lebih lanjut. Dalam menciptakan hipotesa yang baik diperlukan sejumlah rumusan kriteria yang diantaranya berupa:

  • Pernyataan yang mengarah pada destinasi penelitian
  • Penyataan yang dirumuskan dengan destinasi unutk diuji secara empiris.
  • Berupa pengakuan yang dikembangkan menurut teori-teori yang kuat dikomparasikan dengan hipotesa rivalnya.

Dalam menciptakan hipotesa, juga dibutuhkan format yang baik, diantaranya ialah tentang pengakuan “jika-maka”, hipotesis nol dan alternatif, serta hipotesa directional dan non directional.


Contoh Hipotesis 2

Dari ketiga bentuk hipotesa yang baik dan terdiri dari 3 bagian urgen diatas, maka bakal didapatkan misal hipotesa riset sebagai berikut:


1. Pernyataan “Jika-Maka”

Contoh:

Jika pegawai merasakan tekanan dalam bekerja yang lebih rendah, maka mereka akan mendapat kepuasan kerja yang lebih tinggi.


2. Hipotesis Non dan Alternatif

Contoh:

  • H0 = Tidak terdapat pengaruh signifikan eskalasi gaji terhadap kinerja pegawai
  • Ha = Ada pengaruh signifikan eskalasi gaji terhadap kinerja pegawai

3. Hipotesa Directional dan Nondirectional

Contoh:

Ada hubungan langsung variabel gaya kepemimpinan dengan ketidakpastian lingkungan bisnis.


Demikian Pembahasan Tentang 14 Pengertian Hipotesis Menurut Para Ahli: Ciri, Fungsi, Manfaat, Jenis dan Contoh dari Pendidikanmu
Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca :)

Berita Artikel Lainnya:

DAFTAR ISI:

/* */