Pengertian Koordinasi

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Koordinasi? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain:  jenis, fungsi, karakteristik dan prinsip.

Koordinasi

Pengertian Koordinasi

Koordinasi merupakan kemampuan untuk mengerjakan gerakan dengan sekian banyak tingkat kesukaran dengan cepat dan tepat guna dan sarat ketepatan, serta guna mengontrol pergerakan tubuh dalam kerjasama dengan faedah sensorik tubuh misalnya menciduk bola (bola, tangan dan mata koordinasi).


Pengertian Koordinasi Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pengertian koordinasi berdasarkan keterangan dari pada ahli, terdiri atas:


  • Berdasarkan keterangan dari G.R. Terry

Koordinasi ialah suatu usaha yang sinkron dan tertata untuk meluangkan jumlah dan masa-masa yang tepat, dan menunjukkan pelaksanaan guna menghasilkan sebuah tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang sudah ditentukan.


  • Brech

Koordinasi ialah mengimbangi dan menggerakkan kesebelasan dengan menyerahkan lokasi pekerjaan pekerjaan yang sesuai dengan setiap dan menjaga supaya kegiatan itu dilakukan dengan keselarasan yang semestinya salah satu para anggota tersebut sendiri (Hasibuan, 2007:85).


  • Berdasarkan keterangan dari Mc. Farland (Handayaningrat, 1985:89)

Seluruh Indonesia Kaget! Diabetes Mudah Diobati (Lihat di Sini)
Koordinasi ialah suatu proses di mana pimpinan mengembangkan pola usaha kumpulan secara teratur salah satu bawahannya dan memastikan kesatuan perbuatan di dalam menjangkau tujuan bersama.


  • Sementara itu, Handoko (2003:195)

Mendefinisikan koordinasi (coordination) sebagai proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau bidang-bidang fungsional) sebuah organisasi untuk menjangkau tujuan organisasi secara efisien. Berdasarkan keterangan dari Handoko (2003:196) keperluan akan koordinasi tergantung pada sifat dan keperluan komunikasi dalam pengamalan tugas dan derajat saling ketergantungan bermacam-macam satuan pelaksananya.

Hal ini pun ditegaskan oleh Handayaningrat (1985:88) bahwa koordinasi dan komunikasi ialah sesuatu urusan yang tidak bisa dipisahkan. Di samping itu, Handayaningrat pun mengatakan bahwa koordinasi dan kepemimpinan (leadership) ialah tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sebab satu sama beda saling mempengaruhi.

Terdapat 3 (tiga) macam saling ketergantungan salah satu satuan-satuan organisasi yaitu:

  1. Saling ketergantungan yang menyatu (pooled interdependence), bila satuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang beda dalam melaksanakan pekerjaan harian namun tergantung pada pengamalan kerja masing-masing satuan yang memuaskan untuk sebuah hasil akhir.
  2. Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependece), di mana sebuah satuan organisasi mesti mengerjakan pekerjaannya terlebih dulu sebelum satuan yang beda dapat bekerja.
  3. Saling ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence), adalah hubungan memberi dan menerima antar satuan organisasi. Ketiga hubungan saling ketergantungan ini dapat dicerminkan seperti tampak pada diagram inilah ini.

Sehingga koordinasi yang tinggi sangat berfungsi untuk kegiatan yang tidak teratur dan tidak bisa diperkirakan, faktor-faktor lingkungan tidak jarang kali berubah-ubah serta saling ketergantungan ialah tinggi. Koordinasi pun sangat dibutuhkan untuk organisasi-organisasi yang memutuskan tujuan yang tinggi.


Cara Meningkatkan Koordinasi

Untuk menambah atau mengembalikan kegiatan fungsional pasien yang telah merasakan penurunan faedah koordinasi dapat diserahkan dengan sistem cara Frenkel’s Exercise. Prinsip-prinsip dari cara ini ialah sebagai inilah :

  1. Menggunakan Indera yang lain: visual, auditory, cutaneous
  2. Latihan dirancang guna perbaikan koordinasi bukan kekuatan, sampai-sampai tidak memakai resisted kecuali gravitasi
  3. Menggunakan pola gerak yang dapat merangsang propioceptor
  4. Latihan dimulai dengan total pola gerak à reflek tegak à mekanisme stabilisasi à ADL (Activity Daily Living)
  5. Latihan dilaksanakan pada posisi: berbaring à duduk à berdiri à berjalan
  6. Gerakan diserahkan dari yang simpel à sulit, Gross motor à fine motor
  7. Perintah mesti jelas dan slowly (auditory)
  8. Posisi kepala pasien mesti diatur supaya mata dapat menyaksikan gerakan yang dilaksanakan (visual)
  9. Jangan hingga terjadi kelelahan sebab latihan
  10. Latihan dilaksanakan dalam kisaran LGS normal supaya tidak terjadi overstretch
  11. Dapat memakai alat tolong berupa gambar/coretan
  12. Diperlukan konsentrasi, keseksamaan & duplikasi gerak

Pedoman dalam Mekoordinasi

  • Koordinasi mesti terpusat, sampai-sampai ada bagian pengendalian untuk menghindari tiap unsur bergerak sendiri-sendiri yang adalahkodrat yang sudah ada dalam masing-masing bagian, ingat bahwa organisasi merupakan kelompok dari orang-orang yang punya keperluan dan kemauan berbeda.
  • Koordinasi mesti terpadu, keterpaduan kegiatan menunjukkan suasana yang saling memenuhi dan memberi.
  • Koordinasi mesti berkesinambungan, yakni rangkaian pekerjaan yang saling menyambung, tidak jarang kali terjadi, selalu dicoba dan tidak jarang kali ditegaskan adanya kebersangkutanan dengan pekerjaan sebelumnya.
  • Koordinasi mesti memakai pendekatan multi instansional, dengan ujud saling menyerahkan informasi yang relevan guna menghindarkan saling tumpang tindih tugas yang satu dengan tugas yang lain.

Tipe-Tipe Koordinasi

Berdasarkan keterangan dari Hasibuan (2007:86-87) ada 2 (dua) tipe koordinasi, yaitu:

  • Koordinasi vertikal ialah kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilaksanakan oleh atasan terhadap pekerjaan unit-unti, kesatuan-kesatuan kerja yang terdapat di bawah wewenang dan tanggungjawabnya.
  • Koordinasi horisontal ialah mengkoordinasikan tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilaksanakan terhadap kegiatan-kegiatan penyatuan, pengarahan yang dilaksanakan terhadap kegiatan-kegiatan dalam tingkat organisasi (aparat) yang setingkat.

Dan ada 3 (tiga) sifat kordinasi diantaranya:

  1. Koordinasi ialah dinamis bukan statis.
  2. Koordinasi menekankan pandangan lengkap oleh seorang koordinator (manajer) dalam rangka menjangkau sasaran.
  3. Koordinasi melulu meninjau suatu kegiatan secara keseluruhan. Asas koordinasi ialah asas skala (hirarki) dengan kata lain koordinasi itu dilaksanakan menurut keterangan dari jenjang-jenjang dominasi dan tanggungjawab yang dicocokkan dengan jenjang-jenjang yang berbeda-beda satu sama lain. Tegasnya, asas hirarki ini bahwa masing-masing atasan (koordinator) mesti mengkoordinasikan bawahan langsungnya.

Kebutuhan bakal koordinasi

Untuk melihat keterampilan seorang manajer sebagai pemimpin ( atasan ) dalam mengerjakan koordinasi disaksikan dari besar kecilnya jumlah bawahan yang terdapat dalam tanggung jawabnya, yang dikenal sebagai rentang manajemen. Koodinasi diperlukan sekali oleh semua karyawannya, karena tanpa koordinasi masing-masing karyawan tidak memiliki pegangan mana yang mesti diikuti, sampai-sampai akan merugikan organisasi tersebut sendiri.

Dengan koordinasi diinginkan keharmonisan atau keserasian seluruh pekerjaan untuk menjangkau tujuan yang diharapkan. Sehingga tiap departemen atau perusahaan atau unsur menjadi sebanding dan selaras. Koordinasi adalah usaha guna menciptakan suasana yang berupa tiga S,yaitu serasi, selaras dan seimbang. Kebutuhan koordinasi tergantung pada sifat dan keperluan komunikasi dalam pengamalan tugas dan derajat ketergantungan dari tiap satuan pelaksanaan.

Prinsip rentang manajemen sehubungan erat dengan jumlah bawahan yang bisa dikendalikan secara efektif oleh manajer atau atasan. Antara rentang manajemen dan koordinasi saling bersangkutan erat. Ada anggapan bahwa semakin besar jumlah rentangan semakin susah untuk mengkoordinasikan pekerjaan bawahan secara efektif.
Terdapat 3 (tiga) macam saling ketergantungan salah satu satuan-satuan organisasi laksana diungkapkan oleh James D. Thompson (Handoko, 2003:196), yaitu:

  • Saling ketergantungan yang menyatu (pooled interdependence) bila satuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang beda dalam melaksanakan pekerjaan harian namun tergantung pada pengamalan kerja masing-masing satuan yang memuaskan untuk sebuah hasil akhir.
  • Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependece) di mana sebuah satuan organisasi mesti mengerjakan pekerjaannya terlebih dulu sebelum satuan yang beda dapat bekerja.
  • Saling ketergantungan timbal balik (reciprocal interdependence) adalahhubungan member dan menerima antar satuan organisasi. Ketiga hubungan saling ketergantungan ini dapat dicerminkan seperti tampak pada diagram inilah ini.

Masalah yang Timbul Akibat Koordinasi

Empat tipe perbedaan dalam sikap dan teknik kerja salah satu bermacam-macam pribadi dan departemen-departemen dalam organisasi menurut keterangan dari Paul R. Lawrence dan Jay W. Lorch merupakan:

  1. Perbedaan dalam orientasi terhadap destinasi tertentu. Para anggota dari departemen yang bertolak belakang mengembangkan pandangan-pandangan mereka sendiri mengenai bagaimana teknik mencapai kepentingan organisasi yang baik.
  2. Perbedaan dalam oriantasi waktu. Manajer bakal lebih menyimak masalah-masalah yang mesti dipecahkan segera atau dalam periode masa-masa pendek. Bagian riset dan pengembangan lebih tercebur dengan masalah-masalah jangka panjang.
  3. Perbedaan dalam orientasi antar pribadi.Kegiatan produksi membutuhkan komunikasi dan penciptaan keputusan yang cepat supaya prosesnya lancar, sedang bagian riset dan pengembangan barangkali dapat lebih santai dan masing-masing orang dapat menyampaikan pendapat serta bertukar pikiran satu dengan yang lain.
  4. Perbedaan dalam prosedur struktur. Setiap tipe satuan dalam organisasi mungkin memiliki metoda-metoda dan standar-standar yang bertolak belakang untuk mengevaluasi program terhadap destinasi dan guna balas jasa untuk karyawan.

Syarat- Syarat Koordinasi

Untuk mengkoordinasi sebuah tingkatan dalam suatu organisasi anda tidak dapat serta merta tinggal menyuruh bawahan untuk menggarap yang anda inginkan. Jika anda sebagai atasan mengkordinasi bawahan dengan dengan sesuka hati dantidak menyimak keadaan melulu akan menjadikan koordinasi yang anda harapkan akan memberikan kebajikan sebalikan bakal memnimbulkan kekacauan dalam birokrasi organisasi. Agar sebuah kordinasi benar- benar menyerahkan kontribusi yang baik dalam organisasi mesti diperhatikan sejumlah poin berikut:

  • Sense of cooperation (perasaan guna bekerjasama), ini mesti disaksikan dari sudut unsur per unsur bidang pekerjaan, bukan orang per orang.
  • Rivalry, dalam perusahaan-perusahaan besar sering diselenggarakan persaingan antara bagian-bagian, supaya bagian-bagian ini berlomba-lomba untuk menjangkau kemajuan.
  • Team spirit, dengan kata lain satu sama beda pada masing-masing bagian mesti saling menghargai.
  • Esprit de corps, dengan kata lain bagian-bagian yang diboncengkan atau dihargai, lazimnya akan menambah pekerjaan yang bersemangat.

Ciri-Ciri Koordinasi

Berdasarkan keterangan dari Handayaningrat (1985:89-90) koordinasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Bahwa tanggungjawab koordinasi ialah terletak pada pimpinan. Oleh sebab itu, koordinasi ialah adalah tugas pimpinan. Koordinasi tidak jarang dicampur-adukkan dengan kata koperasi yang sebetulnya mempunyai makna yang berbeda. Sekalipun demikian pimpinan tidak mungkin menyelenggarakan koordinasi bilamana mereka tidak mengerjakan kerjasama. Oleh kaerna itu, maka kerjasama adalah suatu kriteria yang sangat urgen dalam menolong pelaksanaan koordinasi.

2. Adanya proses (continues process). Karena koordinasi ialah pekerjaan pimpinan yang mempunyai sifat berkesinambungan dan mesti dikembangkan sampai-sampai tujuan dapat terjangkau dengan baik.

3. Pengaturan secara tertata usaha kelompok.

Oleh sebab koordinasi ialah konsep yang diputuskan di dalam kelompok, bukan terhadap usaha individu, maka sejumlah pribadi yang bekerjasama, di mana dengan koordinasi menghasilkan sebuah usaha kumpulan yang sangat urgen untuk menjangkau efisiensi dalam melaksanakan pekerjaan organisasi. Adanya tumpang tindih, kekaburan dalam tugas-tugas kegiatan adalah pertanda tidak cukup sempurnanya koordinasi.

4. Konsep kesatuan tindakan. Hal ini ialah adalah inti dari koordinasi. Kesatuan usaha, berarti bahwa mesti menata sedemikian rupa usaha-usaha tiap kegiatan pribadi sehingga ada adanya keserasian di dalam menjangkau hasil.

5. Tujuan koordinasi ialah tujuan bersama, kesatuan dari usaha meminta sebuah pengertian untuk semua individu, supaya ikut serta mengemban tujuan sebagai kumpulan di mana mereka bekerja.


Pendekatan-Pendekatan Bagi Mencapai Koordinasi Yang Efektif

Pendekatan ini bisa di tempuh dengan dua jalan yaitu:


  • Pendekatan Potensi Koordinasi

Pendekatan koordinasi ini mencakup sistem:


  • Sistem Informasi Vertical.

Adalah sebuah sistem di mana informasi bisa di kirimkan ke atas dan kebawah jenjang organisasi. Misalnya penanganan IDT (inpres desa tertinggal) dari menteri domestik sampai ke desa terbelakang dan sebaliknya.


  • Sistem Informasi Lateral.

Sistem ini melalaikan rantai komando. Hubungan lateral (hubungan ke samping atau sejajar) ini memungkinkan adanya pertukaran informasi yang diperlukan dapat di pertanggung jawabkan. Misalnya dalam permasalahan tanah butuh adanya informasi lateral atau badan pertanahan nasional, departemen dalam negeri, departemen kehutanan, dan departemen kehutanan.


  • Sistem Informasi Manajer Penghubung.

Manajer penghubung memiliki wewenang formal atas seluruh unit yang tercebur dalam suatu proyek. Manajer penghubung butuh di laksanakan bilamana di perkirakan koordinasi secara efektif tidak sukses di laksanakan.


  • Pendekatan Struktur

Pendekatan ini di lakukan bilamana perusahaan menikmati adanya iklim yang tidak sehat pada unit-unit sebab adanya penunpukan pekerjaan pada satu unit. Pendekatan ini di kenal sebagai organisasi matrik. Yaitu mencirikan adanya satuan tugas atau proyek. Satuan tugas ini bisa di bubarkan bilamana proyek sudah selesai.


Teknik-Teknik Manajemen Dasar

Untuk menjangkau koordinasi yang efektif saya dan anda bisa menggunakan mekanisme teknik-teknik manajemen dasar : hirarki manajerial, rencana dan destinasi sebagai pengarah umum kegiatan-kegiatan serta aturan-aturan dan prosedur-prosedur. Organisasi relatif tidak membutuhkan peralatan koordinasi lebih dari teknik-teknik tersebut.
Mekanisme kiat manajemen dasar :


  • Hirarki manajerial.

Rantai perintah, aliran informasi dan kerja, wewenag formal, hubungan tanggung jawab dan akuntanbilitas yang jelas bisa menumbuhkan integrasi bila dirumuskan secara jelas serta dilakukan dengan pengarahan yang tepat.


  • Aturan dan prosedur.

Adalah keputusan-keputusan manajerial yang diciptakan untuk menangani kejadian-kejadian rutin, sampai-sampai dapat pun menjadi perlengkapan yang tepat guna untuk koordinasi dan pemantauan berkala.


  • Rencana dan penetapan tujuan.

Pengembangannya dapat dipakai untuk pengoordinasian melewati pengarah semua satuan orgaisasi terhadap sasaran-sasaran yang sama. Ini dibutuhkan bila aturan dan formalitas tidak dapat lagi memproses semua informasi yang diperlukan untuk mengoordinasikan kegiatan-kegiatan satuan-satuan oraganisasi.


  • Meningakatkan koordinasi potensial

Meningkatkan koordinasi potensial menjadi dibutuhkan bila bermacam-macam satuan organisasi menjadi saling tergantung dan lebih luas dalam ukuran dan fungsi. Koordinasi ini bisa di tingkatkan melewati dua cara, yakni :


  • Sistem informasi vertikal.

Adalah peralatan melewati mana data disalurkan melalui tingkatan-tingkatan organisasi. Komunikasi bisa terjadi di dalam atau di luar rantai perintah. Sistem informasi manajemen sudah dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan laksana pemasaran, keuangan, produksi, dan operasi-operasi internasional untuk menambah informasi yang tersedia untuk perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.


  • Hubungan-hubungan lateral (harizontal).

Melalui pemotongan rantai perintah, hubungan-hubungan lateral tidak mempedulikan informasi dipertukarkan dan keputusan diciptakan pada tingkat hirarki dimana informasi yang diperlukan ada.
Beberapa hubungan lateral, yaitu:

  1. Kontak langsung antara individu-individu yang bisa meningkatakan efektivitas dan efisiensi kerja.
  2. Peranan penghubung, yang menangani komunikasi antar departemen sahingga meminimalisir panjangnya drainase komunikasi.
  3. Panitnya dan satuan tugas. Panitnya seringkali diorganisasi secara formal dengan pertemuan yang dijadwalkan teratur. Satuan tugas disusun bila diperlukan untuk masalah-masalah khusus.
  4. Pengintegrasian peranan-peranan, yang dilaksanakan oleh contoh manajer produk atau proyek, perlu dibuat bila sebuah produk, jasa atau proyek khusus membutuhkan tingkat koordinasi yang tinggi dan perhatian yang terus menerus dari seseorang.
  5. Peranan penghubung manajerial, yang mempunyai dominasi menyetujui perumusan perkiraan oleh satuan-satuan yang diintegrasikan dan implementasinya. Ini dibutuhkan bila posisi pengintegrasian yang diterangkan pada d di atas tidak secara efektif mengoordinasikan tugas tertentu.
  6. Organisasi matriks, sebuah mekanisme yang paling baik untuk penanganan dan solusi proyek-proyek yang kompleks.

  • Metoda Pengurangan Kebutuhan bakal Koordinasi

Dalam sejumlah situasi ialah tidak tepat guna untuk mengembangkan teknik pengkoordinasian tambahan. Ini dapat dilaksanakan dengan penyediaan ekstra smber daya-sumber daya guna satuan-satuan organisasi atau penglompokan pulang satuan-satuan organisasi supaya tugas-tugas bisa berdiri sendiri.


  • Penciptaan sumber daya-sumber daya tambahan.

Sumber daya-sumber daya tambahan menyerahkan kelonggaran untuk satuan-satuan kerja. Penambahan tenaga kerja, bahan baku atau waktu, tugas diperingan dan masalah-masalah yang timbul berkurang.


  • Penciptaan tugas-tugas yang bisa berdiri sendiri.

Teknik ini mengurangi keperluan koordinasi dengan mengolah karakter satuan-satuan organisasi. Kelompok tugas yang bisa berdiri sendiri diserahi sebuah tanggung jawab sarat salah satu organisasi operasi (perusahaan).


Contoh Kasus Dalam Koordinasi

Contoh-Kasus-Dalam-Koordinasi

Salah satu misal kasus dari gangguan koordinasi ialah ataxia. Ataxia ialah suatu inkoordinasi atau kekikukan gerakan sebagai dampak dari ketidakmampuan guna memperkirakan dengan teliti mengenai jarak dan ketepatan. Biasanya ditandai dengan tremor dan hilangnya gerakan yang terkoordinasi. Ataxia tidak jarang muncul saat bagian dari sistem saraf yang mengendalikan gerakan merasakan kerusakan.

Penderita ataksia merasakan kegagalan kontrol otot pada tangan dan kaki mereka, sampai-sampai menghasilkan kurangnya ekuilibrium dan koordinasi atau gangguan gait. Biasanya ekuilibrium dan koordinasi yang diprovokasi kesatu kali.

Tidak adanya koordinasi tangan, lengan dan kaki dan keterampilan berbicara ialah gejala umum lainnya. Berjalan menjadi semakin susah dan ditandai oleh berlangsung dengan menanam kaki semakin jauh guna mengimbangi ekuilibrium yang buruk. Gangguan koordinasi lengan dan tangan mempengaruhi keterampilan seseorang untuk mengerjakan kontrol gerak yang baik seperti mencatat dan makan. Gerakan mata yang lambat dapat disaksikan pada sejumlah bentuk ataksia. Seiring berjalannya waktu, ataksia dapat memprovokasi kemampuan berkata dan menelan.


Demikian Pembahasan Tentang Koordinasi adalah: Menurut Para Ahli, Cara, Pedoman, Tipe, Ciri, Syarat, Masalah dan Contoh dari Pendidikanmu
Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca :)

Berita Artikel Lainnya:

/* */