Makalah Peradaban Cina Kuno

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Peradapan Cina Kuno? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain:

Sistem-Pemerintahan-Peradaban-Cina-Kuno

Letak Geografis Peradaban Cina Kuno

Sungai Kuning atau Hwang-Ho bersumber di daerah pegunungan Kwen-Lun di Tibet. Setelah melalui daerah pengunungan Cina Utara, sungai panjang yang membawa lumpur kuning itu membentuk dataran rendah Cina dan bermuara di Teluk Tsii-Li di Laut Kuning. Sedang di dataran tinggi sebelah selatan mengalir Sungai Yang Tse Kiang yang berhulu di Pegunungan Kwen-Lun (Tibet) dan bermuara di Laut Cina Timur.


Sejarah Peradaban Cina Kuno

Sejarah Cina adalah salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah Cina telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Peradaban Cina berawal dari berbagainegara kota di sepanjang lembah Sungai Kuning pada zaman Neolitikum. Sejarah tertulis Cina dimulai sejak Dinasti Shang (k. 1750 SM – 1045 SM). Cangkang kura-kura dengan tulisan Cina kuno yang berasal dari Dinasti Shang memiliki penanggalan radiokarbon hingga 1500 SM. Budaya, sastra, dan filsafat Cina berkembang pada zaman Dinasti Zhou (1045 SM hingga 256 SM) yang melanjutkan Dinasti Shang. Dinasti ini merupakan dinasti yang paling lama berkuasa dan pada zaman dinasti inilah tulisan Cina modern mulai berkembang.


Dinasti Zhou terpecah menjadi beberapa negara kota, yang menciptakanPeriode Negara Perang. Pada tahun 221 SM, Qin Shi Huang menyatukan berbagai kerajaan ini dan mendirikan kekaisaran pertama Cina. Pergantian dinasti dalam sejarah Cina telah mengembangkan suatu sistem birokrasi yang memungkinkan Kaisar Cina memiliki kendali langsung terhadap wilayah yang luas.


Pandangan konvensional terhadap sejarah Cina adalah bahwa Cina merupakan suatu negara yang mengalami pergantian antara periode persatuan dan perpecahan politis yang kadang-kadang dikuasai oleh orang-orang asing, yang sebagian besar terasimiliasi ke dalam populasi Suku Han. Pengaruh budaya dan politik dari berbagai wilayah di Asia, yang dibawa oleh gelombang imigrasi, ekspansi, dan asimilasi yang bergantian, menyatu untuk membentuk budaya Cinamodern.


  1. Suku Peradaban Cina Kuno

Suku Tibet pertama diketahui menetap di sepanjang bagian tengah dari Sungai Yarlung hingga Sungai Zangbo di Tibet. Bukti dari budaya zaman tua ditemukan di Nyalam, Nagqu, Nyingchi dan Qamdo. Menurut dokumen sejarah kuno, Suku paling awal terbentuk dinamakan “Bos” di daerah Shannan. Pada abad ke-6, para kepala suku Yarlung di daerah ini menjadi pemimpin suku setempat dan menyatakan dirinya sebagai “Zambo” (raja). Pada awal abad ke-7, Raja Songzan Gambo mulai menguasai seluruh Tibet dan mendirikan ibukota “Losha” (sekarang Lhasa).  Beliau mendirikan administratif daerah,  menciptakan skrip Tibet, membuat undang-undang dan mulai mengenal dan merumuskan ukuran dan berat. Membangun kerajaan Bo, atau disebut Tubo dalam dokumen china kuno.


Setelah rezim Tubo didirikan, Suku Tibet mulai meningkatkan hubungan politik, ekonomi dan pertukaran budaya dengan Suku Han dan etnis minoritas lainnya di Cina. Pada thn 641, Raja Gambo menikah dengan Putri Wen Cheng dari Dinasti Tang (618-907). Pada thn 710, Raja Chide Zuzain menikah dengan  Putri Jin Cheng juga dari Dinasti Tang. Kedua putri membawa budaya mereka dan cara meningkatkan produksi dalam bercocok tanam ke Tibet. Sejak saat itu, kedua utusan Negara sering saling mengunjungi antara wilayah Tang dan Tibet. Raja Tibet mengirim siswa ke Chang’an, ibukota Dinasti Tang, dan mengundang para sarjana dan pengrajin Tang ke Tibet. Pertukaran ini membantu meningkatkan hubungan antara Tibet dan kelompok etnis lainnya di Cina dan mendorong perkembangan sosial di Tibet.


  1. Sistem Mata Pencaharian Peradaban Cina Kuno

Kekayaan alam Cina yang begitu melimpah menyebabkan kemajuan kebudayaan yang cepat dan beragam. Mengalirnya Sungai Hwang Ho dan Sungai Yang Tse merupakan sumber kehidupan bangsa Cina dengan cara bercocok tanam dan beternak. Tantangan cara hidup bertani mendorong bangsa Cina membuat perkakas pertanian dari bahan logam, apalagi ditunjang dengan wilayah Cina Selatan yang kaya akan barang tambang, seperti besi timah, emas dan tembaga. Selain menjadi perkakas pertanian, logam pun diolah menjadi perabot rumah tangga seperti periuk, tombak, pisau dan lain-lain. Cepatnya kemajuan bangsa Cina di bidang teknologi pertanian mendorong terbentuknya kerajaan, dinasti yang pertama adalah dinasti Hsia.


Sistem Pemerintahan Peradaban Cina Kuno

Berikut dibawah ini terdapat beberapa sistem pemerintahan peradaban cina kuno, antara lain sebagai berikut:


  • Dinasti Shang (1523-1027 SM)

Dinasti Shang merupakan dinasti tertua di negeri Cina, namun tidak adanya bukti tertulis maka pada zaman itu bisa dikategorikan sebagai masa prasejarah. Setelah dinasti Hsia runtuh, muncul Dinasti Shang dengan ibukota Anyang (sebelah Utara Lembah Sungai Hwang Ho). Posisi wilayah kerajaan ini sangat aman, terutama ditunjang oleh kondisi geografi yang tidak mendukung adanya serbuan dari luar, sebelah Barat sampai Barat Daya dikelilingi oleh pegunungan, sebelah Utara adalah padang Gurun Gobi dan sebelah Timur dan Selatan adalah Laut Pasifik.


Pada zaman Dinasti Shang muncul kepercayaan menyembah banyak dewa, sebagai dewa tertinggi adalah dewa langit Shang Ti, tetapi bangsa Cina tidak meninggalkan kepercayaan kepada roh nenek moyang.


  • Dinasti Chou (1027 – 256 SM)

Dinasti Chou menggantikan Dinasti Shang setelah terjadi perebutan kekuasaan dengan alasan raja dari Dinasti Shang dianggap salah mengurus negara dan telah meninggalkan mandat dari Dewa Langit. Sebagai ibukota dipilih Kota Hao. Kondisi sosial dalam masyarakat semasa Dinasti Shang sudah terbentuk, secara tidak disadari telah terbentuk dua golongan, yaitu golongan bangsawan dan golongan rakyat biasa. Adanya kondisi ini melahirkan sistem feodalisme yang diterapkan pada masa Dinasti Chou. Sistem pemerintahan pada Dinasti Chou dikuasai secara terpusat di bawah kekuasaan Kaisar, dan daerah-daerah yang dikuasai raja dipimpin oleh raja bawahan (Raja Vazal) sebagai pembantu. Sistem seperti ini, Raja Vazal selalu menekan kepada rakyatnya untuk membayar upeti dan memperkuat daerahnya sendiri dengan membentuk pasukan militer yang menguasai daerah-daerah tetangga yang lemah dengan alasan memperkuat kekuatan pusat apabila dibutuhkan.


Adanya serangan bangsa barbar dari sebelah barat Cina ke ibukota Hao, menyebabkan dipindahkannya ibukota ke Loyang di sebelah Timur. Akibat serangan ini memperlemah kekuatan Dinasti Chou ditambah lagi dengan lemahnya kekuatan pusat yang beralih ke daerah maka tahun 770 SM terjadi pergantian kekuasaan oleh persekutuan raja-raja Vazal. Karena lemahnya kerajaan, pada tahun 480 SM Cina terbagi menjadi tiga penguasa, yaitu Chi di Shantung, Chu di bagian Utara Sungai Yang Tse dan Chin di Lembah Sungai Hwang Ho. Kondisi pemerintahan seperti ini melahirkan para tokoh filsafat, di antaranya Lao Tse, Kong Fu Tse, Meng Tse, dan lain-lain.


  • Dinasti Chin (221 – 206 SM)

Di antara tiga penguasa, Chin adalah penguasa yang agresif dan mengalahkan kekuatan lainnya. Barulah tahun 221 SM, Pangeran Cheng sebagai penguasa Chin membeli wilayah untuk kekuasaanya dari Manchuria sampai Yang Tse. Keberhasilannya itu, Pangerang Cheng menamai dirinya Shih Huang Ti (Kaisar Pertama).


Kebijakan-kebijakan yang pernah dikeluarkan oleh Shih Huang Ti selama berkuasa, yaitu:

  1. Penghapusan sistem feodalisme dan raja vazal.
  2. Sistem birokrasi terpusat, dengan seorang gubernur untuk mengatur provinsi.
  3. Menyusun tulisan yang seragam.
  4. Memperluas wilayah Cina, bahkan hingga Korea.
  5. Memerintahkan pembangunan tembok Cina, untuk menahan serangan tentara Mongol dari Utara.
  6. Pengaturan takaran dalam perdagangan.
  7. Petani dan masyarakat golongan biasa dikenai wajib militer, pajak tinggi dan kerja paksa.
  8. Menghancurkan faham Kong Fu Tse dengan membunuh sarjana dan membakar buku-buku ajarannya.

Shih Huang Ti wafat tahun 210 SM, terjadi kekacauan di provinsi yang diakibatkan oleh keserakahan para gubernur dan bangsawan yang ingin mengambil kekuasaan di Cina, dan timbulnya pemberontakan rakyat terhadap sistem yang diterapkan oleh Shih Huang Ti. Salah seorang petani bernama Liu Pang berhasil mengatasi kekacauan dan menduduki tahta kerajaan dengan mendirikan Dinasti Han.


  • Dinasti Han (206 SM – 221 M)

Kedekatan Liu Pang kepada rakyat dan pendidikan, ajaran Kong Fu Tse dihidupkan kembali bahkan ajarannya dipakai sebagai seleksi calon pegawai negara dan kenaikan jabatan, sistem feodalisme dikekang, penghapusan pajak, dan pembangunan irigasi dan jalan yang baru.


Dinasti Han, tetap mempertahan tradisi dinasti-dinasti sebelumnya untuk memperluas wilayah Cina, bahkan pada saat kekuasaan kaisar Wu Ti menghasilkan sebuah imperium yang luas hingga ke Korea, Turkestan, sebagian India dan IndoCina. Berkat imperium ini, terjadi hubungan perdagangan antara Cina dan India sehingga terjadi percampuran kebudayaan dan dimulainya masuk ajaran agama Buddha. Jalur perdagangan Cina dengan Asia Tengah menggunakan Jalur Sutera, yaitu jalur perjalanan dari Cina ke Asia Tengah melalui India Utara. Adanya kerawanan keamanan selama perjalanan, jalur perdagangan diganti melalui laut melalui Indonesia. Sepeninggal Wu Ti, Cina mengalami kemunduran akibat kebijakan yang tidak menguntungkan orang kaya dengan cara penghapusan budak, pembagian pemilikan tanah dan penetapan harga. Kehancuran Dinasti Han terjadi pada tahun 221 SM.


  • Dinasti T’ang (618 – 906 M)

Pada zaman Dinasti T’ang bangsa Cina mengalami kejayaan kembali yang sebelumnya telah hancur dan terpecah-pecah menjadi negara kecil. Kemajuan Dinasti T’ang ditunjang kedekatannya kepada para petani dan kaum bangsawan dengan diberlakukannya Undang-undang tentang pembagian tanah dan perpajakan. Wilayah Cina diperluas hingga ke Persia dan Laut Kaspia sehingga terjalin hubungan perdagangan dengan Asia Tengah. Dari perdagangan inilah masuknya agama Kristen dan Islam ke daratan Cina.


Sistem Kepercayaan Peradaban Cina Kuno

Bangsa Cina kuno mempunyai kepercayaan yang bersifat politheisme, yaitu percaya kepada banyak dewa. Mereka memuja dewa-dewa yang dianggap sebagai sumber kekuatan. Dewa-dewa utamanya, antara lain Dewa Feng-Fa (sebagai dewa angin), Dewa Lei-Shih (sebagai dewa taufan). Kedua dewa ini digambarkan dalam wujud ular naga besar. Dewa Ho-Po dianggap sebagai dewa tertinggi yang bertakhta di Sungai Hwang-Ho. Dewa ini digambarkan sebagai dewa berbentuk manusia berkendaraan dua ekor naga besar. Gadis-gadis cantik setiap tahunnya dipersembahkan untuk dikurbankan. Sebelum diterjunkan ke Sungai Hwang-Ho, gadis-gadis itu dirias terlebih dahulu.


Kebudayaan China ialah penempatan kepada salah satu tamadun tertua dan paling kompleks yang meliputi sejarah lebih 5,000 tahun. Negara China meliputi kawasan geografi besar yang penuh adat dan tradisi yang banyak berbeza antara pekan, bandar dan wilayah.


Sistem Budaya Peradaban Cina Kuno

Kebudayaan kuno China dimulai pada massa kaisar T’ang dinasti Syang yang berlangsung selama tahun 1766- 1122 SM. Pada zaman dinasti ini berkembang semacam feodalisme, selain kaisar yang berkuasa di pusat wilayah ada pula bangsawan- bangsawan yang memerintah di daerah- daerah pesisir .

Pada zaman dinasti Cou seorang raja atau kaisar disebut “Putra langit” yang di percaya sebagai dewa tertinggi alam semesta. Sistem pemerintahan masih sama dengan sistem pemerintahan sekarang, jika seorang raja bekerja dengan baik maka akan di dukung penuh oleh rakyat begitu pun sebaliknya.


  • Peninggalan Budaya

Di Lingjiatan, Kabupaten Hanshan di Provinsi Anhui, China, para arkeolog telah menemukan situs peninggalan suku primitif yang pernah dihuni 5.000 tahun yang lalu. Teknologi pengeboran yang hebat dan kepingan bor batu tertua di dunia juga ditemukan dil okasi tersebut. Profesor bidang arkeologi, Zhang Jingguo mengatakan banyak misteri yang belum terpecahkan pada reruntuhan tersebut.

Reruntuhan yang terletak di Desa Lingjiatan, kota praja Tongzha di Kabupaten Hanshan, Kota Chaohu – Provinsi Anhui, luasnya meliputi areal sekitar 1,5 juta meter persegi. Para arkeolog mengatakan kota berusia 5.000 tahun tersebut mungkin adalah kota yang maju dan makmur dengan berbagai bangunan, peternakan hewan dan barang kerajinan yang telah maju. Penemuan sebelumnya kota tertua serupa di China yang telah diakui oleh para arkeolog terletak di Desa Dantu, Kabupaten Wulian, Kota Rizhao di Provinsi Shandong, yang dibangun lebih dari 4.000 tahun yang lalu.
Awal penemuan reruntuhan yang paling penting dari zaman Neolitikum adalah musim gugur tahun 1985. Seorang penduduk desa bernama Wan Chuancang saat menggali liang kubur menemukan cincin giok, kapak dan pahat batu.


Dari tahun 1987 hingga 2000, dari empat penggalian pada situs tersebut. Ditemukan lebih dari 1.200 peninggalan berharga termasuk sebuah altar, 66 kuburan, batu giok olahan, peralatan batu dan barang tembikar dari jaman Neolitikum. Di antaranya adalah giok naga tertua dan sekop batu terbesar yang pernah ditemukan di China. Hal ini mendukung teori yang mengatakan Lembah Danau Chaohu adalah tempat lahirnya kebudayaan China yang amat penting.


  •  Ilmu Pengetahuan

pada zaman Cina Kuno sudah berkembang maju. Masyarakat cina kuno sudah mengenal astronomi. Astronomi digunakan untuk menentukan kalender. Disamping itu, astronomi dapat juga digunakan sebagai ilmu nujum (astrologi) untuk meramal. Teknologi yang terkenal dari Cina adalah teknologi pembuatan berbagai macam barang keramik dan juga pembuatan kain sutera. Kedua hasil kerajinan itulah yang menjadi komoditi perdagangan utama cina yang dijual ke seluruh dunia. Masyarakat Cina Kuno juga sudah mengenal tulisan gambar. Tulisan ini kemudian berkembang menjadi banyak jenis tulisan di cina berkaitan dengan penggunaan bahasa yang juga berbeda-beda di berbagai wilayah yang berbeda. Sampai kemudian pada masa pemerintahan Dinasti Chin digunakan satu jenis tulisan yang diberlakukan di seluruh Cina.


Tokoh Filsafat Peradaban Cina Kuno

Berikut dibawah ini tokoh filsafat pada masa perdaban cina kuno, antara lain sebagai berikut:


  1. Kong hu cu (Confusionisme)

Kong Hu Cu merupakan seorang filosof besar Cina. Dialah orang pertama pengembang sistem yang memadukan alam fikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling besar filosofinya menyangkut moralitas orang perorang dan konsepsi suatu pemerintahan tentang cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya lewat tingkah laku teladan yang sekarang telah menyerap dalam kehidupan dan kebudayaan orang Cina selama lebih dari dua ribu tahun. Dari pengaruh pemikiran inilah Confusianisme banyak menghasilkan para intelektual di Cina, dan pengaruh intelektualnya ini berpengaruh terhadap sebagian penduduk di dunia.


  1. LAO ZI (FILSUF CINA KUNO)

adalah seorang filsuf dari Cina kuno, yang merupakan tokoh sentral dalam Taoisme (dieja “Daoisme”). Lao Zi secara harfiah berarti “Putra Tua”, “Sahabat Tua”, ataupun “Sang Guru Tua, sebutan ini merupakan suatu gelar kecintaan dan penghormatan. Lao Zi dianggap dewa dalam hampir semua Agama yang beraliran Taoisme.


Perkembangan Dinasti Pada Masa Cina Kuno

Sejarah Cina kuno ditandai oleh muncul dan runtuhnya dinasti. Setiap dinasti memiliki ciri yang berbeda dalam hal perdaban yang diciptakannya. Berikut beberapa dinasti pada masa Cina kuno:


  • Dinasti Shang dan Peradabannya (1500-1027 SM)

Dinasti Shang adalah dinasti kedua setelah dinasti Hsia (2000-1500 SM). Hanya sedikit data sejarah mengenai dinasti Hsia ini, terkecuali berdasarkan temuan-temuan arkeologis. Dinasti ini merupakan dinasti Cina asli yang tumbuh dan berkembang disekitar lembah sungai Kuning. Karena kawasannya relatif aman, maka dinasti Shang ini mampu mengembangkan bentuk pemerintahan dan peradaban. Ibu kota dinasti Shang ini berada di kota Anyang yang terletak di sebelah utara lembah sungai Kuning. Kota Anyang merupakan salah satu kota tertua di Cina selain kota Chengchou. Pada kedua kota tersebut, dinasti Shang menggolongkan masyarakatnya secara sederhana sesuai perannya. Namun penggolongan ini bukan berarti kasta seperti bangsa Arya (India).


Golongan yang berkuasa adalah para Raja bersama birokrasinya yang mengatur pekerjaan dan kehidupan rakyat. Golongan tersebut didukung oleh golongan Ksatria serta memiliki peran untuk mengontrol kehidupan budak dan petani yang berstatus setengah budak. Meskipun berada dibawah kontrol golongan yang berkuasa tersebut, para petani mampu mengembangkan kehidupan agraris yang lebih baik. Para petani mampu memproduksi sutra sebagai kegiatan ekonomi mereka. Sedangkan para perajin mampu mengembangkan kerajianan perunggu. Perunggu tersebut digunakan sebagai perhiasan bagi para bangsawan, sebagai upacara ritual, dan sebagai bahan pembuat senjata.


Pada masa dinasti Shang inilah mulai dikenal tulisan. Awal terciptanya tulisan Cina berkaitan dengan kepercayaan yang dianut Dinasti Shang. Raja-raja Shang adalah juga pendeta yang sering memohon kepada Dewa. Alat yang digunakan untuk meminta permohonan dan doa tersebut adalah tulisan gambar (pictograph) yang ditulis dipermukaan tulang sapi. Tulisan tersebut lama-kelamaan berkembang dan digunakan oleh banyak orang pada generasi-generasi mendatang. Tulisan ini akhirnya bukan hanya menyebar di daratan Cina melainkan juga ke Korea dan Jepang.


  • Dinasti Chou dan berkembangnya Ajaran Filsafat Cina (1027-221 SM)

Ciri peradaban yang menonjol pada masa Dinasti Chou adalah dibentuknya pemerintahan pusat yang kuat, hal tersebut didukung oleh para bangsawan yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan sebuah Negara. Kota-kota yang dibangun pun secara terencana serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan kanal yang digunakan untuk mendistribusikan barang dan bahan makanan ke penduduk di Kota.


Zaman dinasti Chou ditandai dengan kemajuan kreativitas intelekual. Para pemikir Cina zaman Chou tersebut atara lain Konfusius yang mengembangkan Konfusianisme, Lao Tze yang mengembangkan Taoisme, Han Fei Tsu dan Li Ssu yang mengembangkan ajaran Legalisme, Moti atau Mo Tzu yang mengembangkan Mohisme, kaum Sophis yang mengembangkan Sophisme, serta individualisme. Berikut ajaran filsafat yang mereka kembangkan:


a) Konfusianisme

Dalam masyarakat Cina, ajaran ini paling berpengaruh hingga sekarang. Ajaran ini dibuat pada tahun 551-479 SM oleh seorang guru bernama Kung Fu Tzu, ia mengajarkan pandangan filsafatnya melalui lisan. Nama ajaran Konfusius diambil dari nama penciptanya, yaitu Kung Fu Tzu, kemudian oleh muridnya ditulis dalam sebuah buku yang terkenal, yaitu Analects.

Inti pemikiran Konfusius terpusat pada masalah kehidupan sehari-hari manusia dan pentingnya perilaku baik individu dalam masarakat. Dia memandang keluarga sebagai inti terpenting dalam masyarakat. Di dalam keluarga, laki-laki berkuasa atas wanita dan yang tua harus dihormati oleh yang muda. Ajaran Konfusius berpandangan bahwa untuk mewujudkan pemerintahan yang baik, maka penguasa harus bersifat adil, jujur, bijaksana, dan memberi kasih sayang pada semua golongan. Intinya, pemerintahan harus bersifat humanis.


b) Taoisme

Ajaran ini berkembang pada abad ke-6 SM sesuai dengan kehidupan Lao Tzu (Lau-Tse), orang yang yang mengajarkan dan mengembangkan ajaran Taoisme ini. Intisari ajaran yang dikembangkan Lao Tzu bertujuan untuk memelihara harmoni antara kehidupan manusia di dunia dan hukum universal alam jagat raya (law of natural), yaitu Tao. Pada perkembangan selanjutnya, ajaran Lao Tzu dikembangkan dan dilanjutkan oleh Chuang Tzu yang hidup pada abad empat SM (369-286 SM) di Negara Chi. Nama sebenarnya adalah Chou. Karena itu, ia juga bisa disebut Chuang Chou.


Berbeda dengan ajaran konfusianisme yang mencapai tujuannya dengan cara-cara ilmiah, yaitu menyelidiki keadaan masyarakat dan memperhatikan keadaan manusia. Sedangkan dalam Taoisme, untuk mendekati tujuan perjuangannya secara langsung melalui ketajaman intuisi, maka cara yang digunakan adalah pengembangan kepekaan perasaan (sensitivitas) dan emosi. Maka dari itu Cofusius dianggap sebagai orang rasionalis, sedangkan Lao Tzu sebagai orang mistikus. Dalam Taoisme ini, pemikiran utamanya dipusatkan pada hubungan antara manusia dan pencipta.


c) Mohisme

Ajaran ini muncul setelah Confucius meninggal, ajaran ini diperkenalkan oleh seorang ahli pikir bernama Moti atau Mo Tzu, maka ajaran ini disebut Mohisme. Ia hidup kira-kira pada tahun 479-381 SM. Moti atau Mo Tzu ini berasal dari negara Lu. Namun keterangan tentang hidupnya tidak dapat diketahui dengan pasti. Keterangan tentang ajarannya hanya diperoleh melaui bukunya yang terkenal dengan judul Mo Tzu. Didalam ajarannya itu ia mempunyai pandangan yang sangat revolusioner, terutama mengenai susunan masyarakat, ia juga menentang perbedaan yang tajam dalam kehidupan bermasyarakat seperti yang terdapat dalam susunan masyarakat feodal. Atas dasar itu, dapat dikatakan bahwa ajaran Mohisme yang revolusiner sangat kontrakdiktif dengan ajaran Confusius yang konservatif. Mo Tzu menganjurkan kesederhanaan dan kesehajaan hidup seperti para pertapa. Mohisme menolak segala macam kesenangan yang mewah (hedonistis), berbeda dengan Confucianisme, ajaran Mo Tzu mempunyai susunan dan sistematika ajaran yang sangat logis-rasional, semacam ilmu logika.


d) Sophisme

Mo Tzu (Mo Ti) telah memberikan sumbangan pemikiran filsafat yang sofistik terhadap sejarah dan perdaban Cina. Kontribusi pemikiran tersebut berupa sistematika logika yang disusun dalam bentuk cara berdiskusi yang sangat teratur.  Pada kira-kira akhir abad empat, tepatnya semasa munculnya Chuang Tzu, berkembang pula cara diskusi yang sistematis dan bertaraf tinggi. Kelompok para pemikir yang biasa melakukan diskusi itu disebut kaum Sophis atau dialektrisian. Para pengikutnya tersebar luas terutama di Negara Chi dan Wei. Cara berfikir mereka dan sisematikanya sangat penting bagi perkembangan pemikiran filsafat Cina, serta mempengaruhi para pemikir yang hidup pada abad tiga SM, diantaranya Men Tzu dan Hsun Tzu.


e) Individualisme

Selain para pemikir dan cendekiawan yang terus berusaha meneliti dan mencari jalan bagi upaya penyelamatan kehidupan masyarakat, ternyata ada juga tokoh pemikir yang bersikap individualistis dan egoistis. Seorang individualis yang sangat ekstrim, antara lain, Yang Cu. Ia hidup pada abad empat SM. Ajaran-ajarannya hanya dapat diketahui dari pemberitaan lawan-lawannya. Ia adalah seorang pemikir yang pesimistis dan cenderung tertarik pada paham sinisme. Ia sangat egosentris, dan sama sekali tidak menghiraukan segala macam kegiatan orang lain.


f) Legalisme

Filsafat yang tergolong penting bagi perkembangan dan terbentuknya negara kesatua Cina adalah ajaran filsafat penganut paham Fa Chia, atau yang lazim diebut kaum legalis. Fa berarti undangundang atau hokum, jadi Fa Chia atau legalisme artinya ajaran yang menurut undang-undang atau hukum, dan karena itu pula pahamnya disebut legalisme. Berkembangnya ajaran ini diperkirakan pada abad empat dan tiga SM. Para penemunya, Han Fei Tze (233 SM) dan Li Ssu (208 SM), mereka merupakan pejabat dinasti Chou yng berfilsafat bahwa pemerintah harus memiliki sebanyak mungkin kekuasaan untuk meredam pemberontak. Jadi pemerintah yang ideal adalah yang otokratis, yaitu harus memaksakan kehendaknya agar potensi perlawanan pemberontak dapat diatasi. Namun ajaran legalisme kurang berkembang karena pemikirannya dianggap terlalu sempit dan akhirnya kalah bersaing dengan Teoisme dan Konfusianisme.

Selain kedua dinasti di atas, masih ada dinasti-dinasti lain di wilayah Cina, seperti dinasti Ch’in yang berdiri sekitar tahun 221-207 SM dan dinasti Han yang berdiri sekitar tahun 206 SM – 220 M. Namun kedua dinasti ini tidak bertahan lama seperti dinasti-dinasti sebelumnya.


  • Zaman Imperium Cina dan Hasil Peradabannya

Cina memasuki zaman dinasti baru setelah Shih Huang Ti diangkat sebagai kaisar pertama dinasti Chi’in. Dinasi Chi’in adalah kelanjutan dari dinasti Chou. Dibawah kaisar Shi Huang Ti wilayah kekuasaan Ch’in meluas. Dinasti Han yang menggantikannya mampu memperluas dan mepertahankan kesatuan Cina selama berabad-abad. Banyak tindakan-tindakan dramatis yang dilakukan kaisar Shih Huang Ti selama menjalankan pemerintahannya.


Pertama, dia menghancurkan kekuasaan feodal dan mengadakan landreform, diantaranya petani diberi hak lebih besar, pemintalan teksil (sutra) menjadi perhatian utama kaisar dibidang ekonomi, adanya jaringan jalan raya sehingga perdagangan meningkat. Kedua, membuat standarisasi tulisan karena wilayah Cina yang semakin meluas dan keragaman dialek dalam berkomunikasi. Ketiga, meningkatkan sistem pertahanan dengan cara membangun tembok raksasa (the Great Wall of Cina) dengan panjang sekitar 6400 Km. keempat, membuat pemerintahan sentralisasi dan menjalankan pemerintahan secara diktator.


Tampilnya Liu Pang sebagai kaisar dinasti Han (206 SM – 220 M) menandai lahirnya zaman Imperium Cina. Dinasti baru ini meneruskan tradisi dinasti sebelumnya, tetapi feodalisme tetap dikekang, pemerintah bersifat otokratis yang didukung oleh pejabat berpendidikan yang bukan berasal dari golongan aristokrat. Para pejabat diseleksi berdasarkan sistem sosial yang ketat untuk ditempatkan pada jabatan-jabatan sipil pemerintahan.


Beberapa kemajuan pada masa pemerintahan Han Wu Ti diantaranya, wilayah imperium diperluas ke Turkestan, India, Korea, dan Indocina. Perdagangan mengalami kemajuan sehingga terjadinya pertemuan budaya Cina dan India. Adanya pengaruh kebudaaan Cina dan India di wilayah Indocina. Karena hubungan dagang pula agama Budha dapat masuk ke wilayah Cina. Dari situ pula muncul tokokt-okoh yang ahli dibidangnya, seperti Tsu-ma Ch’ien (146-86 SM), ia merupakan seorang sejarawan yang membuat suatu karya yang berjudul “Catatan Sejarawan-Sejarawan Besar” yang berisi catatan sejarah mengenai para dinasti, kaisar, menteri, dan jenderal yang berkuasa sebelumnya. Ching Chi, seorang ahli dibidang kedokteran. Hua To seorang ahi bedah yang mampu melakukan teknik bedah tanpa rasa sakit dengan menggunakan obat yang diramu dengan anggur. Chan Heng (78-139 M) seorang ahli dibidang matematika.


Peradaan zaman Han yang paling mengagumkan adalah ditemukannya kertas sekitar tahun 105 M. Penemuan tersebut menunjang peradaban yang lebih tinggi pada dinasti-dinasti berikutnya. Masa setelah runtuhnya Dinasti Han pada 220 M ditandai dengan perang saudara. Setelah kurang lebih 400 tahun berperang, Cina disatukan lagi oleh dinasti Tang (618-906 M) sejak zaman Tang, pendidikan di Cina mengalami kemajuan, perdagangan dan perjanjian dagang dengan India, Persia, Arab, dan Jepang lebih intensif. Empat dinasti yang berkuasa sampai abad ke-20 adalah Sung (906-1280 M), Mongol (1259-1368 M), Ming (168-144 M) dan Menchu (1644-1912 M).


Daftar Pustaka :

  • Nana Supriatna. Advanced Learning History 1. (Bandung: Grafindo, 2014), hal 102
  • Nana Supriatna. Advanced Learning History 1. (Bandung: Grafindo, 2014), hal 103
  • Nana Supriatna. Advanced Learning History 1. (Bandung: Grafindo, 2014), hal 104
  • Wiriaatmadja, Rochiati, dkk. Sejarah dan Peradaban Cina: Analisis filosofis-historis dan sosio-antropologis, (Bandung: Humaniora,2003), hal 126
  • Wiriaatmadja, Rochiati, dkk. Sejarah dan Peradaban Cina: Analisis filosofis-historis dan sosio-antropologis, (Bandung: Humaniora,2003), hal 127
  • Nana Supriatna. Advanced Learning History 1. (Bandung: Grafindo, 2014), hal 106
  • Nana Supriatna. Advanced Learning History 1. (Bandung: Grafindo, 2014), hal 107

Demikian Pembahasan Tentang Peradaban Cina Kuno: Letak, Sistem Pemerintahan, Kepercayaan, Budaya, Tokoh dan Perkembangan dari Pendidikanmu
Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca :)

Baca Artikel Lainnya:

/* */