Kerajaan Demak

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Kerajaan Demak? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain: latar belakang, letak, raja, masa kejayaan dan runtuhnya.

Latar-Belakang-Kerajaan-Demak

Latar Belakang Kerajaan Demak

Kondisi Indonesia abad ke 15 merupakan masa transisi Hindu Buddha menuju Islam dengan berakhirnya kerajaan besar nusantara, Majapahit. Masa  tersebut mulai munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang menggantikan kerajaan Hindu Buddha. Kerajaan Smudra Pasai menjadi kerajaan muslim pertama di Indonesia. Sedangkan  berdirinya kerajaan Demak di Jawa Tengah menjadi tonggak awal keislaman di pulau Jawa dimulai. Demak membangun kekuatan yang solid dengan rajanya yang pertama yakni Raden Patah. Sebelum beliau menjadi raja Demak pertama, Raden  Patah membina pesantren terlebih dahulu.

Awal berdirinya Kerajaan Demak ketika berakhirnya Kerajaan Majapahit yang diberi tanda Candra Sengkala: Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti tahun saka 1400 atau 1478 M yang disebabkan perang saudara sehingga wilayah kekuasaannya memisahkan diri. Sementara Demak yang berada di wilayah pesisir utara pantai Jawa muncul sebagai kawasan yang mandiri. Dalam tradisi Jawa digambarkan bahwa Demak merupakan pengganti langsung dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Islam Demak berdiri pada tahun 1478 M, oleh Raden Fatah.  Dari gelarnya, yaitu raden, dapat diduga ia bertalian darah dengan penguasa lama. Kerajaan Demak terletak didaerah Bintoro atau Gelagahwangi yang sebelumnya merupakan daerah kadipaten dibawah kekuasaan Majapahit.

Memudarnya pengaruh Majapahit menjadikan pengaruh Hindu Buddha surut pula. Saat itu cahaya Islam mulai memancarkan pengaruhnya di Pulau Jawa. Meskipun sejak zaman Kerajaan Sriwijaya para pemeluk agama islam sudah sampai di bumi Nusantara. Saat Kerajaan Majapahit mulai runtuh di pulau Jawa mulai banyak yang telah memeluk agama Rasullulah SAW. Namun tidak sedikit para penganut Hindu dan Buddha yang masih tetap teguh memegang. Mereka yang tidak ingin memeluk agama Islam berlarian menuju tempat yang sukar untuk dijamah. Seperti ke gunung-gunung maupun menyebrang lautan.

Setelah Kerajaan Majapahit  redup dari panggung sejarah nusantara, kemudian muncul  kerajaan baru, yakni Kasultanan Demak, dengan rajanya bernama Raden Patah dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar I. Beliau putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit terakhir dan ibunya adalah seorang putri dari Champa.

Peradaban islam Jawa mulai berkembang lebih pesat dan kuat semenjak berdirinya Kerajaan Demak. Peradaban Hindu Buddha yang masih relevan masih diteruskan. Baru setelah kemenangan politik dan budaya menyebabkan adanya ajaran dan tatanan baru menurut islam mudah diikuti oleh masyarakat di kepulauan Nusantara.

Kerajaan Demak sendiri terletak di pesisir pantai utara Jawa. Saat ini berlokasi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kerajaan Demak didukung penuh oleh para wali/ulama yang berjumlah Sembilan atau orang Jawa lebih familiar dengan sebutan Walisanga (dibaca, Walisongo). Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan  Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Walisanga pula yang turut serta dalam penyebaran di pulau Jawa khususnya dan nusantara pada umumnya. Mereka menyebarkan islam sebagian besar  menggunakan cara kesenian dan kebudayaan daerah. Di dalam penyebarannya Walisanga juga menyempurnakan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama islam.


Letak Kerajaan Demak

Secara geografis Kerajaan Demak terletak di daerah Jawa Tengah, tetapi pada awal kemunculannya kerajaan Demak mendapat bantuan dari para Bupati daerah pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah menganut agama Islam. Pada sebelumnya, daerah Demak bernama Bintoro yang merupakan daerah vasal atau bawahan Kerajaan Majapahit. Kekuasaan pemerintahannya diberikan kepada Raden Fatah (dari kerajaan Majapahit) yang ibunya menganut agama Islam dan berasal dari Jeumpa (Daerah Pasai). Letak Demak sangat menguntungkan, baik untuk perdagangan maupun pertanian.

Pada zaman dahulu wilayah Demak terletak di tepi selat di antara Pegunungan Muria dan Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak lebar dan dapat dilayari dengan baik sehingga kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang. Tetapi sudah sejak abad XVII jalan pintas itu tidak dapat dilayari setiap saat. Pada abad XVI agaknya Demak telah menjadi gudang padi dari daerah pertanian di tepian selat tersebut.

Konon, kota Juwana merupakan pusat seperti itu bagi daerah tersebut pada sekitar 1500. Tetapi pada sekitar 1513 Juwana dihancurkan dan dikosongkan oleh Gusti Patih, panglima besar kerajaan Majapahit yang bukan Islam. Ini kiranya merupakan peralawanan terakhir kerajaan yang sudah tua itu. Setelah jatuhnya Juwana, Demak menjadi penguasa tunggal di sebelah selatan Pegunungan Muria.

Yang menjadi penghubung antara Demak dan Daerah pedalaman di Jawa Tengah ialah Sungai Serang (dikenal juga dengan nama-nama lain), yang sekarang bermuara di Laut Jawa antara Demak dan Jepara. Hasil panen sawah di daerah Demak rupanya pada zaman dahulu pun sudah baik. Kesempatan untuk menyelenggarakan pengaliran cukup. Lagi pula, persediaan padi untuk kebutuhan sendiri dan untuk pergadangan masih dapat ditambah oleh para penguasa di Demak tanpa banyak susah, apabila mereka menguasai jalan penghubung di pedalaman Pegging dan Pajang.


Raja Kerajaan Demak

Ketika kerajaan Majapahit mulai mundur, banyak bupati yang ada di daerah pantai utara Pulau Jawa melepaskan diri. Bupati-bupati itu membentuk suatu persekutuan  di bawah pimpinan Demak. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, berdirilah kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama dipulau Jawa. Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Demak adalah sebagai berikut :


  1. Raden Patah (1500-1518)

Raden Patah adalah pendiri dan sultan pertama dari kerajaan Demak yang memerintah tahun 1500-1518 (Muljana: 2005). Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra prabu Brawijaya raja terakhir. Di ceritakan prabu Brawijaya selain kawin dengan Ni Endang Sasmitapura, juga kawin dengan putri cina dan putri campa. Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa merasa cemburu, prabu Brawijaya terpaksa memberikan putri Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah, setelah itu putri Cina dinikahi Arya Damar, dan melahirkan seorang  anak laki-laki yang diberi nama Raden Kusen. Demikianlah Raden Patah dan Raden Kusen adalah saudara sekandung berlainan bapak.( Muljana:  2005). Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden Patah masih muda adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) atau disebut juga prabu Brawijaya V dari selir Cina.

Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah dan Raden Kusen menolak untuk menuruti kehendak orang tuanya untuk menggantikan ayahnya sebagai adipati di Palembang. Mereka lolos dari keraton menuju Jawa dengan menumpang kapal dagang. Mereka berdua mendarat di Surabaya, lalu menjadi santri pada Sunan Ngampel.( Muljana: 2005). Raden Patah tetap tinggal di Ngampel Denta, kemudian dipungut sebagai menantu Sunan Ngampel, dikawinkan dengan cucu perempuan, anak sulung Nyai Gede Waloka.

Raden Kusen kemudian mengabdi pada prabu Brawijaya di Majapahit. Raden Kusen diangkat menjadi adipati Terung, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah, di situ ia membuka hutan Glagahwangi atau hutan Bintara menjadi sebuah pesantren dan Raden Patah menjadi ulama di Bintara dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitarnya. Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Prabu Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak.Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.

Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit.Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.

Menurut kronik Cina, Jin Bun alias Raden Patah  pindah dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi di Majapahit resah. Namun, berkat bujukan Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel), Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo atau Bintara ( Muljana: 2005).

Dalam waktu yang singkat, di bawah kepemimpinan Raden Patah, lebih-lebih oleh karena jatuhnya Malaka ke tangan portugis dalam tahun 1511, Demak mencapai puncak kejayaannya. Dalam masa pemerintahan Raden Patah, Demak berhasil dalam berbagai bidang, diantaranya adalah perluasan dan pertahanan kerajaan, pengembangan islam dan pengamalannya, serta penerapan musyawarah dan kerja sama antara ulama dan umara (penguasa). (Muljana: 2005).

Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan dapat dilihat ketika ia menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahkta Majapahit (1478), hingga dapat menggambil alih kekuasaan majapahit. Selain itu, Raden Patah juga mengadakan perlawan terhadap portugis, yang telah menduduki malaka dan ingin mengganggu demak.Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Pati Unus atau Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor (1511), meski akhirnya gagal. Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang menggantikan ayahnya pada tahun 1518. Dalam bidang dakwah islam dan pengembangannya,

Raden patah mencoba menerapkan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, ia juga membangun istana dan mendirikan masjid (1479) yang sampai sekarang terkenal dengan masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh walisanga.


  1. Adipati Unus (1518 – 1521)

Pada tahun 1518 Raden Patah wafat kemudian digantikan putranya yaitu Pati Unus. Pati Unus terkenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan pernah memimpin perlawanan terhadap Portugis di Malaka. Karena keberaniannya itulah ia mendapatkan julukan Pangeran Sabrang lor. ( Soekmono: 1973).

Tome Pires  dalam bukunya Suma Oriental menceritakan asal-usul dan pengalaman Pati Unus. Dikatakan bahwa kakek Pati Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya.Ia merantau ke Malaka dan kawin dengan wanita Melayu.

Dari perkawinan itu lahir ayah Pati Unus, ayah Pate Unus kemudian kembali ke Jawa dan menjadi penguasa di Jepara.( Muljana: 2005 ). Setelah dewasa beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Adipati Unus resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus.

Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis ( Muljana: 2005 ). Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka gagal dan balik kembali  ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal. Di tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat, beliau berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus.

Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan Demak akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah. Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.


  1. Sultan Trenggono (1521 – 1546)

Sultan Trenggono adalah Sultan Demak yang ketiga, beliau memerintah Demak dari tahun 1521-1546 M. ( Badrika: 2006 ). Sultan Trenggono adalah putra Raden Patah pendiri Demak yang lahir dari permaisuri Ratu Asyikah putri Sunan Ampel ( Muljana: 2005 ). Menurut Suma Oriental, ia dilahirkan sekitar tahun 1483. Sultan Trenggana merupakan penerus Adipati Yunus, yaitu kakaknya yang terlebih dulu menjadi Sultan menggantikan Raden Patah. Masa pemerintahan Sultan Trenggrana berlangsung selama 25 tahun, yaitu dari tahun 1521-1546.

Menurut perkiraan Pires, Tranggana lahir pada tahun 1483. Musafir Portugis itu, pada sekitar tahun 1515 ketika mengumpulkan bahan-bahan untuk menyusun bukunya Suma Oriental, tidak mempunyai penilaian tinggi terhadap penguasa ketiga Demak ini. Ia berpendapat bahwa Raja tersebut terlalu memanjakan diri dengan kenikmatan keputren, ia hidup mewah dan berfoya-foya dan mengabaikan urusan kenegaraannya.

Permaisuri Sultan Trenggana ada dua:  Putri Nyai Ageng Malaka dan Putri Sunan Kalijaga, Putra-putri Sultan Trenggana :

  1. Ratu Mas Pembayan
  2. Panembahan Prawata
  3. Ratu Mas Pamantingan
  4. Ratu Mas Kalinyamat
  5. Ratu Mas Arya Ing Surabaya
  6. Ratu Mas Katambang
  7. Ratu Mas Cempaka = istri Jaka Tingkir
  8. Panambahan Mas Ing Madiun
  9. Ratu Mas Sekar Kedaton

Diantaranya yang paling terkenal ialah Sunan Prawoto yang menjadi raja penggantinya, Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara, Ratu Mas Cempaka yang menjadi istri Sultan Hadiwijaya, dan Pangeran Timur yang berkuasa sebagai adipati di wilayah Madiun dengan gelar Rangga Jumena.

Sultan Trenggana Wafat / Mangkat Berita Sultan Trenggono wafat ditemukan dalam catatan seorang Portugis bernama Fernandez Mendez Pinto. Pada tahun 1546 Sultan Trenggono menyerang Panarukan, Situbondo yang saat itu dikuasai Blambangan.Sunan Gunung Jati membantu dengan mengirimkan gabungan prajurit Cirebon, Banten, dan Jayakarta sebanyak 7.000 orang yang dipimpin Fatahillah. Mendez Pinto bersama 40 orang temannya saat itu ikut serta dalam pasukan Banten.

Pasukan Demak sudah mengepung Panarukan selama tiga bulan, tapi belum juga dapat merebut kota itu. Suatu ketika Sultan Trenggono bermusyawarah bersama para adipati untuk melancarkan serangan selanjutnya. Putra bupati Surabaya yang berusia 10 tahun menjadi pelayannya. Anak kecil itu tertarik pada jalannya rapat sehingga tidak mendengar perintah Trenggono. Trenggono marah dan memukulnya. Anak itu secara spontan membalas menusuk dada Trenggono memakai pisau. Sultan Demak itu pun tewas seketika dan segera dibawa pulang meninggalkan Panarukan.

Sultan Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawah Sultan Trenggana, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Panglima perang Demak  waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggana. Sultan Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto.


  1. Sunan Prawata (1546 – 1549)

Sunan Prawata adalah nama lahirnya (Raden Mukmin) adalah raja keempat Kesultanan Demak, yang memerintah tahun 1546-1549. Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama daripada ahli politik. Pada masa kekuasaannya, daerah bawahan Demak seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik, berkembang bebas tanpa mampu dihalanginya. Menurut Babad Tanah Jawi, ia tewas dibunuh oleh orang suruhan bupati Jipang Arya Penangsang, yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Setelah kematiannya, Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang, dan Kesultanan Demak pun berakhir.

Sepeninggal Sultan Trenggana yang memerintah Kesultanan Demak tahun 1521-1546, Raden Mukmin selaku putra tertua naik tahta.Ia berambisi untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa. Namun, keterampilan berpolitiknya tidak begitu baik, dan ia lebih suka hidup sebagai ulama daripada sebagai raja. Raden Mukmin memindahkan pusat pemerintahan dari kota Bintoro menuju bukit Prawoto. Lokasinya saat ini kira-kira adalah desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Oleh karena itu, Raden Mukmin pun terkenal dengan sebutan Sunan Prawoto. Pemerintahan Sunan Prawoto juga terdapat dalam catatan seorang Portugis bernama Manuel Pinto.

Pada tahun 1548, Manuel Pinto singgah ke Jawa sepulang mengantar surat untuk uskup agung Pastor Vicente Viegas di Makassar. Ia sempat bertemu Sunan Prawoto dan mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa, serta ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan Prawoto juga berniat menutup jalur beras ke Malaka dan menaklukkan Makassar. Akan tetapi, rencana itu berhasil dibatalkan oleh bujukan Manuel Pinto.

Cita-cita Sunan Prawoto pada kenyataannya tidak pernah terlaksana.Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada mempertahankan kekuasaannya. Satu per satu daerah bawahan, seperti Banten, Cirebon, Surabaya, dan Gresik, berkembang bebas; sedangkan Demak tidak mampu menghalanginya.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Demak

Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak Demak sangat strategis di jalur perdagangan nusantara memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritim. Dalam kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan Demak semakin berkembang. Dan hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai Pulau Jawa.

Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.

Letak kerajaan Demak yang strategis , sangat membantu Demak sebagai kerajaan Maritim. Lagi pula letaknya yang ada di muara sungai Demak mendorong aktivitas perdagangan cepat berkembang. Di samping dari perdagangan, Demak juga hidup dari agraris. Pertanian di Demak tumbuh dengan baik karena aliran sungai Demak lewat pelabuhan Bergota dan Jepara.Demak bisa menjual produksi andalannya seperti beras, garam dan kayu jati.


Kehidupan Sosial-Budaya Kerajaan Demak

Berdirinya kerajaan Demak banyak didorong oleh latar belakang untuk mengembangkan dakwah Islam. Oleh karena itu tidak heran jika Demak gigih melawan daerah-daerah yang ada dibawah pengaruh asing. Berkat dukungan Wali Songo , Demak berhasil menjadikan diri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa yang memiliki pengaruh cukup luas. Untuk mendukung dakwah pengembangan agama Islam, dibangun Masjid Agung Demak sebagai pusatnya. Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Bonang. Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan Kerajaan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja Demak. Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan/para wali/ulama dengan rakyat.

Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat yang diselenggarakan di Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan diantara orang-orang Islam).

Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid Demak, dimana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan kayu yang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw) yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon. Hal tersebut menunjukan adanya akulturasi kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam.

Setelah Demak berkuasa kurang lebih setengah abad, ada beberapa hasil peradaban Demak yang sampai saat ini masih dapat dirasakan:

  • Sultan Demak, Senopati Jimbun pernah menyusun suatu himpunan undang-undang dan peraturan di bidang pelaksanaan hukum. Namanya: Salokantara, sebagai kitab hukum, maka didalamnya antara lain menerangkan tentang pemimpin keagamaan yang pernah menjadi hakim. Mereka disebut dharmahyaksa dan kertopapatti.
  • Gelar pengulu (kepala), juga sudah dipakai disana, yang sudah dipakai Imam di Masjid Demak. Hal in juga terkait dengan orang yang terpenting disana, yaitu nama Sunan Kalijaga. Kata Kali berasal dari bahasa Arab Qadli, walaupun hal itu juga dikaitkan dengan nama sebuah sungai kecil, Kalijaga di Cirebon. Ternyata istilah Qadli, pada masa-masa selanjutnya dipakai oleh imam-imam masjid.
  • Bertambahnya bangunan-bangunan militer di Demak dan ibukota lainnya di Jawa pada abad XVI.
  • Peranan penting Masjid Demak sebagai pusat peribadatan Kerajaan Islam pertama di Jawa. Dengan Masjid, umat Islam di Jawa dapat mengadakan hubungan dengan pusat-pusat Islam Internasional di luar negeri (di Tanah Suci, maka dengan kekhalifahan Ustmaniyah di Turki).
  • Munculnya kesenian seperti wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang macapat, pembuatan keris, dan hikayat-hikayat Jawa yang dipandang sebagai penemuan para wali yang sezaman dengan Kerajaan Demak.
  • Perkembangan sastra Jawa yang terpusat di bandar-bandar pantai utara dan pantai timur Jawa yang mungkin sebelumnya tidak di Islami, maupun pada masa-masa selanjutnaya “di Islamkan”.

Kemajuan Kerajaan Demak dalam berbagai bidang tidak bisa dilepaskan dari peran serta Islam dalam menyusun dan membentuk pondasi Kemasyarakatan Demak yang lebih Unggul. Disamping itu peran serta para pemimpin dan para Wali juga turut membantu kejayaan Kerajaan Demak.


Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kerajaan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Kemudian beberapa kali ia mengirimkan armada lautnya untuk menyerang Portugis di Malaka. Trenggana berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawahnya, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546).

Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan, dan kemudian digantikan oleh Sunan Prawoto. Salah seorang panglima perang Demak waktu itu adalah Fatahillah, pemuda asal Pasai (Sumatera), yang juga menjadi menantu raja Trenggana. Sementara Maulana Hasanuddin putera Sunan Gunung Jati diperintah oleh Trenggana untuk menundukkan Banten Girang. Kemudian hari keturunan Maulana Hasanudin menjadikan Banten sebagai kerajaan mandiri. Sedangkan Sunan Kudus merupakan imam di Masjid Demak juga pemimpin utama dalam penaklukan Majapahit sebelum pindah ke Kudus.


Runtuhnya Kerajaan Demak

Berikut dibawah ini terdapat beberapa keruntuhan kerajaan demak antar lain sebagai berikut :


  1. Perang Saudara di Kerajaan Demak

Perang saudara ini berawal dari meninggalnya anak sulung Raden Patah yaitu Adipati Unus yang manjadi putra mahkota. Akhirnya terjadi perebutan kekuasaan antara anak-anak dari Raden Patah. Persaingan ketat anatara Sultan Trenggana dan Pangeran Seda Lepen (Kikin). Akhirnya kerajaan Demak mampu dipimpin oleh Trenggana dengan menyuruh anaknya yaitu Prawoto untuk membunuh pangeran Seda Lepen. Dan akhirnya sultan Trenggana manjadi sultan kedua di Demak. Pada masa kekuasaan Sultan Trenggana (1521-1546), Demak mencapai puncak keemasan dengan luasnya daerah kekuasaan dari Jawa Barat sampai Jawa timur. Hasil dari pemerintahannya adalah Demak memiliki benteng bawahan di barat yaitu di Cirebon. Tapi kesultanan Cirebon akhirnya tidak tunduk setelah Demak berubah menjadi kesultanan pajang.

Sultan Trenggana meninggalkan dua orang putra dan empat putri. Anak pertama perempuan dan menikah dengan Pangeran Langgar, anak kedua laki-laki, yaitu sunan prawoto, anak yang ketiga perempuan, menikah dengan pangeran kalinyamat, anak yang keempat perempuan, menikah dengan pangeran dari Cirebon, anak yang kelima perempuan, menikah dengan Jaka Tingkir, dan anak yang terakhir adalah Pangeran Timur. Arya Penangsang Jipang telah dihasut oleh Sunan Kudus untuk membalas kematian dari ayahnya, Raden Kikin atau Pangeran Sedo Lepen pada saat perebutan kekuasaan. Dengan membunuh Sunan Prawoto, Arya Penangsang bisa menguasai Demak dan bisa menjadi raja Demak yang berdaulat penuh. Pada tahun 1546 setelah wafatnya Sultan Trenggana secara mendadak, anaknya yaitu Sunan Prawoto naik tahta dan menjadi raja ke-3 di Demak. Mendengar hal tersebut Arya Penangsang langsung menggerakan pasukannya untuk menyerang Demak. Pada masa itu posisi Demak sedang kosong armada. Armadanya sedang dikirim ke Indonesia timur. Maka dengan mudahnya Arya Penangsang membumi hanguskan Demak. Yang tersisa hanyalah masjid Demak dan Klenteng.

Dalam pertempuran ini tentara Demak terdesak dan mengungsi ke Semarang, tetapi masih bisa dikejar. Sunan prawoto gugur dalam pertempuran ini. Dengan gugurnya Sunan Prawoto, belum menyelesaikan masalah keluarga ini. Masih ada seseorang lagi yang kelak akan membawa Demak pindah ke Pajang, Jaka Tingkir. Jaka Tingir adalah anak dari Ki Ageng Pengging bupati di wilayah Majapahit di daerah Surakarta. Dalam babad tanah jawi, Arya Penangsang berhasil membunuh Sunan Prawoto dan Pangeran Kalinyamat, sehingga tersisa Jaka Tingkir. Dengan kematian kalinyamat, maka janda dari pangeran kalinyamat membuat saembara. Siapa saja yang bisa membunuh Arya Penangsang, maka dia akan mendapatkan aku dan harta bendaku.

Begitulah sekiranya tutur kata dari Nyi Ratu Kalinyamat. Mendengar hal tersebut Jaka Tingkir menyanggupinya, karena beliau juga adik ipar dari Pangeran Kalinyamat dan Sunan Prawoto. Jaka Tingkir dibantu oleh Ki Ageng Panjawi dan Ki Ageng Pamanahan.

Akhirnya Arya Panangsang dapat ditumbangkan dan sebagai hadiahnya Ki Ageng Panjawi mendapatkan hadiah tanah pati, dan Ki Ageng Pamanahan mendapat tanah mataram.


  1. Konflik di Kerajaan Demak

Awal dari konflik yang terjadi di Demak berawal saat Sultan kedua Sabrang Lor (Pati Yunus) tidak memiliki putra. Sehingga ketika ia meninggal terjadi pertentangan dalam keluarga tentang siapa yang berhak naik tahktha. Berawal dari sinilah konflik di mulai.

Pangeran Sekar yang seharusnya lebih berhak menduduki jabatan karna lebih tua setelah meninggalnya pangeran Sabrang Lor. Namun putra ke tiga ini dipandang kurang cakap atau kurang memenuhi syarat, sehingga Pangeran Trengganalah yang di angkat sebagai Sultan berikutnya. Pangeran Trenggana dipandang lebih cakap dalam menjalankan pemerintahan.

Sunan Kudus tidak puas dengan keputusan ini. baginya Pangeran Sekar sudah dizalimi. Menurutnya memang pangeran Sekarlah yang seharusnya menjadi Sultan pengganti Sabrang Lor.

Atas putusan yang dianggap tidak menguntungkannya maka pangeran Sekar (dalam beberapa referensi juga disebut pangeran Kikin) telah menyiapkan taktik untuk menempatkan anaknya sebagai pengganti Sultan Trenggana nantinya. Anak Pangeran Sekar atau Pangeran Kikin bernama Arya Panangsang.

Arya Panangsang berguru kepada Sunan Kudus dan menjadi Murid kesayangannya. Arya Panangsang menjadi orang yang sakti luar biasa. Pangeran Sekar bangga kepadanya, dia tinggal tunggu waktu untuk menjadikan anaknya sebagai pengganti Sultan berikutnya.

Sultan Trenggana yang telah mencium gelagat buruk ini, menyiapkan strategi untuk mempertahankan kekuasaan dengan Sunan Prawata sebagai penggantinya. Maka keduanya melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menangkal kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, yaitu naiknya arya panangsang sebagai Sultan.

Langkah awal yang dilakukan oleh Sunan Prawata adalah menyingkirkan musuhnya ini, maka persaudaraanpun punah oleh ambisi kekuasaan. Dengan dalih mengamankan Negara dan supaya umat tidak kacau maka pangeran Sekar dibunuh oleh Ki Surayata atas perintah Pangeran Prawata. Dia dibunuh di tepi Sungai setelah Sholat Jum’at.

Pembunuhan ini adalah awal dari pembunuhan yang beruntut pada peristiwa bunuh membunuh. Sepeninggal Sultan Trenggana, Raden Mukmin naik taktha namun keahliannya dalam berpolitik kurang mahir. Raden Mukmin lebih memilih hidup sebagai ulama ketimbang sebagai raja. Melalui tangan Raden Mukmin, pusat pemerintahan kota Bintoro dipindahkan ke bukit Prawata (desa Prawoto, Sukolilo, Pati), Jawa Tengah. Sejak itu, Raden Mukmin dikenal dengan sebutan Sunan Prawoto.

Menurut catatan Manuel Pintu dari Portugis, Sunan Prawoto pernah berencana meng-Islamkan seluruh Jawa dan ingin berkuasa seperti Sultan Turki. Selain itu, Sunan Prawoto berniat menutup jalur beras ke Malaka dan menaklukkan Makasar. Namun berkat bujukan Pinto, rencana Sunan Prawoto itu berhasil digagalkan.

Manuel Pinto berusaha supaya raja membuang pikiran tersebut karena khawatir kalau-kalau ekspedisi tentara Jawa akan merugikan Pastor Vicente Viegas yang pada waktu itu juga sedang berusaha memperkenalkan Agama Kristen di Sulawesi Selatan. Dari berita-berita Manuel Pinto, dapat ditarik kesimpulan bahwa Raja Jawa itu mengetahui sedikit mengenai perkembangan politik di Eropa. Pada tahun 1547 Sultan Sulaiman I telah mengkonsolidasikan penduduknya di daerah-daerah Hungaria dengan mengadakan perjanjian dengan Kaisar Karel V. Ia seorang pahlawan agama Islam.

Memang cita-cita Sunan Prawoto tidak pernah terlaksana. Sunan Prawoto lebih banyak menghabiskan waktu sebagai ahli agama ketimbang mempertahankan kekuasaannya. Hingga satu persatu daerah bawahannya, seperti : Banten, cirebon, Surabaya, dan Gresik berkembang bebas tanpa sepengendali pemerintahan Demak.

Menjelang akhir pemerintahannya, Sunan Prawoto dalam kelengahan. Arya Panangsang (berstatus sebagai Bupati Jipang) yang merupakan pesaing lama mulai berulah. Berkat perintah Sunan Kudus, Arya Panangsang berhasrat membunuh Sunan Prawoto melalui tangan Rangkud.

Suatu malam, Rangkud menyusup ke ruang peraduan Sunan Prawoto. Menikamkan pedang ke dada Sunan Prawoto hingga tembus ke tubuh Istrinya. Melihat Istrinya tewas bersimbah darah, Sunan Prawoto Geram, lalu melemparkan keris bethok ke dada Rangkud hingga tewas, seketika Sunan Prawoto juga Tewas. Sultan Prawoto meninggalkan seorang anak, ia adalah Arya Panggiri yang kemudian diasuh oleh bibinya, yaitu Ratu Kalinyamat setelah Dewasa Arya Panggiri menjadi menantu Hadiwijaya dan diberi kekuasaan wilayah Demak.

Nyi Kalinyamat akhirnya menahan dendam kepada Arya panangsang, untuk itu Nyi Kalinyamat meminta bantuan Jaka Tingkir atau Hadiwijaya sebagai iparnya untuk membalaskan dendamnya. Demi membalaskan kematian saudaranya Sunan Prawoto dan Suaminya yang ikut terbunuh juga oleh Arya Panangsang untuk melenyapkan pesaing menjadi Sultan Demak.

Akhirnya dengan Persekutuan antara Joko Tingkir, Ki Ageng Pamanahan, Raden Sutawijaya (Putra Ki Ageng Pamanahan) dan Ki Panjawi, maka Arya Panangsang Dikalahkan. Jaka Tingkirlah kemudian sebagai penerus Demak yang kemudian memindahkan kekuasaanya ke Pajang.

Konflik yang terjadi di Demak ternyata juga melibatkan wali Jawa, Sunan Kudus berpihak kepada Arya Panangsang sedangkan Sunan Kalijaga berada pada pihak Jaka Tingkir atau Hadiwijaya.

Sultan Handiwijaya sangat menghormati orang-orang yang telah berjasa. Terutama kepada orang-orang yang dahulu membantu pertempuran melawan Arya Penangsang. Kyai Ageng Pemanahan mendapatkan tanah Mataram dan Kyai Panjawi diberi tanah di Pati. Keduanya diangkat menjadibupati di daerah-daerah tersebut.Sutawijaya, putra Kyai Ageng Pemanahan diangkat menjadi putra angkat karena jasanya dalam menaklukan Arya Penangsang. Ia pandai dalam bidang keprajuritan. Setelah Kyai Ageng Pemanahan wafat pada tahun 1575, Sutawijaya diangkat menjadi penggatinya.

Pada tahun 1582 Sultan Hadiwijaya wafat. Putranya yang bernama Pangeran Benawa diangkat menjadi penggantinya. Timbul pemberontakan yang dilakukan oleh Arya Panggiri, putra Sunan Prawoto, ia merasa mempunyai hak atasa tahta Pajang. Pemberontakan itu dapat digagalkan oleh Pangeran Benawan dengan bantuan Sutawijaya.Pengeran Benawan menyadari bahwa dirinya lemah, tidak mamapu mengendalikan pemerintahan, apalagi menghadapi musuh-musuh dan bupati-bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Pajang kepada saudara angkatnya, Sutawijaya pada tahun 1586. Pada waktu itu Sutawijaya telah menjabat bupati Mataram, sehingga pusat kerajaan Pajang dipindahkan ke Mataram.


  1. Faktor Penyebab Keruntuhan Kerajaan Demak

Suatu Kesultanan meskipun telah besar, namun tetap saja memiliki beberapa kekurangan yang berakibat pada keruntuhan suatu dinasti. Ini adalah beberapa kelemahan Demak yang akhirnya dapat membubarkan Kerajaan Islam pertama dan telah hampir menguasai seluruh wilayah Jawa. Menurut Slamet Muljana kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut :


  1. Kurang pandai menarik simpati rakyat

Para Sultan Demak tidaklah pandai menarik simpati rakyatnya. Raden Patah, sejak awal berdirinya kerajaan terlalu mengandalkan kekuatan orangorang Tionghoa Islam atau yang bukan Islam yang tinggal menetap di beberapa Pelabuhan untuk perdagangan. Raden Patah bercita-cita membangun Negara Maritim, maka perhatiannya dicurahkan untuk pembuatan pelabuhan dan kapal-kapal demi suatu armada yang tangguh.


  1. Fokus terhadap Negara Maritim

Demak berfokus kepada perang dengan portugis yang datang ke Indonesia untuk mencari rempah. Demi monopoli dagang, maka Demak berperang dengan Portugis memperebutkan pelabuhan-pelabuhan penting jalur perdagangan. Tetapi sayangnya pelabuhan Malaka terlebih dahulu dikuasai oleh Portugis dan Demak tidak mampu menyerang pertahanan benteng Portugis yang telah dibangun di Malaka. Maka waktunya hanya dipakai untuk menghadang kekuatan Portugis, Negara Maritim dan monopoli rempah, sehingga tidak memiliki waktu untuk memikirkan dan mengambil hati rakyatnya.


  1. Terlalu mengandalkan Bangsa Tionghoa

Raden Patah atau Jin Bun adalah keturunan Brawijaya V penguasa terakhir Majapahit dari Ibu yang berdarah China. Maka mungkin Jin Bun merasa sebangsa dengan China, itulah sebabnya Jin Bun dalam Sikapnya lebih berpihak kepada Rakyat Tionghoa yang tinggal di pelabuhan-pelabuhan. Akan tetapi kekuatan orang China sangatlah sedikit seandainya jika dibandingkan dengan Rakyat lokal (Jawa). Demikianlah yang membuat kekuatan Demak tidak cukup memiliki power, hal ini dapat merugikan kekuatan Demak sendiri.

Akibat kelalaian Jin Bun Merangkul Rakyat pedalaman, Demak akhirnya kehilangan simpati rakyat. Tenaga rakyat tidak mampu lagi didaya gunakan untuk kepentingan kemenangan Kerajaan.


  1. Perbedaan Madzhab Bangsawan dan Rakyat

Perbedaan mewarnai pula dalam masalah pelik di Demak. Sultan Demak dan para pengikutnya menganut Madzhab Hanafi, seperti yang diajarkan oleh Sunan Ngampel Alias Bong Swi Hoo. Namun sebagian besar rakyat bekas kerajaan Majapahit masih tetap memeluk Hindu. Daerah pasuruan dan Panarukan tetap merupakan daerah agama Hindu, tidak tunduk kepada Demak.

Beberapa Pembesar yang masuk Islam, seperti Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butun, dan Ki Ageng Siti Ngerang memeluk agama Islam yang diajarkan oleh Syeikh Siti Jenar.


  1. Sengketa Keluarga

Yang paling melemahkan adalah sengketa keluarga yang terjadi diantara keturunan Raden Patah. Raden Patah yang memiliki beberapa anak laki-laki dari ibu yang berbeda-beda yang membuat perebutan semakin sengit.

Penobatan Adipati Yunus alias Yat Sun tidak mengalami kesulitan, Karena Yat Sun adalah putra mahkota sulung. Tetapi, stelah Yat Sun mangkat tanpa meninggalkan putra, timbul berbagai masalah. Para putranya mulai berebut kekuasaan, Raden Kikin atau Raden Sekar atau Pangeran Seda Lepen lebih tua daripada Sultan Trenggana akan tetapi Sultan Trenggana lahir dari Istri Pertama, sedangkan Pangeran Seda Lepen lahir dari Istri ke tiga. Hal inilah yang menimbulkan keruwetan dan pembunuhan berkepanjangan demi memiliki Takhtha kerajaan.

Itulah beberapa sebab yang membuat keadaan Demak terpuruk, maka dinasti Jin Bun berakhir tahun 1546M. Jika dihitung maka masa kejayaannya hanyalah 71 tahun sejak awal pembangunannya. Pada tahun itu juga, berdirilah kesultanan baru di Pajang, di sebelah barat kota Surakarta Sekarang. Kesultanan Demak diruntuhkan oleh keturunan Majapahit pula, karena Sultan Hadiwijaya adalah anak dari Ki Ageng Pengging dan sebagai Cucu dari Bupati Dayaningrat yang merupakan menantu dari Prabu Brawijaya V (Wikramawardhana). Dengan berakhirnya kekuasan Demak, maka pemerintahan dipindah ke Pajang di daerah pedalaman dengan tidak membangun Armada baru lagi bahkan tidak menguasai pelabuhan- pelabuhan.


Daftar Pustaka :

  • al-Usairy, Ahmad, 2003. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
  • H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud, 2003. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.
  • Muljana, Slamet, 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, 1993. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Muljana, Slamet, 2009. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Jogjakarta : LKis.
  • Pigeaud, De Graaf, 1985. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa: kajian Sejarah Politik Abad ke-15 dan ke-16. seri terjemahan. Jakarta : Grafiti pers.
  • Purwadi, 2010. The History of Javanese Kings-Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogjakarta : Ragam Media.
  • Adji, Krisna Bayu, 2011. Ensiklopedia Raja-Raja Jawa Dari Kalingga Hingga Kasultanan Yogyakarta: Mendedah Kisah dan Biografi Para Raja Berdasar Fakta Sejarah. Yogjakarta : Araska.
  • Mukarrom, Ahwan, 2010. Kerajaan-Kerajaan Islam Indonesia. Surabaya : Jauhar.

Demikian Pembahasan Tentang Latar Belakang Kerajaan Demak: Letak, Raja, Masa Kejayaan dan Runtuhnya dari Pendidikanmu
/* */