Sejarah Kerajaan Aceh

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Kerajaan Aceh? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain: silsilah raja kerajaan aceh beserta masa perkembangannya.

Silsilah-Raja-Kerajaan-Aceh

Sejarah Kerajaan Aceh

Awal dari sejarah pendirian Kesultanan Aceh Darussalam, yaitu pada tahun 1496, yang terletak di United Lamuri, pertama kali datang sebelum Kesultanan Aceh dan pemerintah Aceh untuk mempermalukan ekspansi teritorial oleh bagian dari daerah di sekitar pemerintahan seperti Kerajaan Kekuasaan, pemerintah Pedir, United Lidie, dan Kerajaan Nakur. Pada 1524 daerah itu menjadi bagian dari Kesultanan Pasai Aceh, diikuti oleh penggabungan wilayah Aru.

Di Kerajaan Aceh, para kepala pemerintahan memiliki kendali atas sultan, tetapi jika pemerintahan kerajaan Aceh lebih dikendalikan oleh orang kaya atau yang disebut panglima perang. Di Hikayat, Sultan Aceh mengatakan bahwa itu diturunkan oleh salah satu penguasa departemen Sri Sultan Alam pada 1579 karena perilaku yang tidak pantas dalam mendistribusikan properti pemerintah kepada para pengikutnya. Tur kemudian digantikan oleh Sultan Zainal Abidin, tetapi Sultan Zainal terbunuh beberapa bulan setelah penobatan karena sifatnya yang kejam dan kecanduan berburu dan berkelahi dengan binatang.

Setelah pembunuhan Sultan Zainal pada 1589, raja-raja dan Hulubalang menawarkan Alaiddin Riayat Shah Sayyid al-Mukamil dari dinasti Darul Kamal tahta kekuasaan. Lawan orang yang melanggar sistem kepemimpinan mereka. Ia juga melakukan uasaha untuk memperkuat posisinya sebagai penguasa tunggal Kerajaan Aceh.

Keberhasilan dalam waktu Kesultanan Aceh muncul dalam kepemimpinan Sultan Iskandar Muda dengan kisaran 1607 hingga 1636. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, provinsi Pahang Aceh ditaklukkan ketika itu merupakan daerah yang dikenal sebagai sumber daya untuk kepemimpinan utama. Selain itu, Kesultanan Aceh harus melakukan upaya pada 1629 untuk menyerang Portugis di Malaka dengan armada 500 kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dimaskudkan upaya untuk memperluas dominasi Aceh di Selat Malaka dan Semenanjung Malaya, tetapi ekspedisi gagal.


Silsilah Kerajaan Aceh

Berikut ini terdapat beberapa silsilah kerajaan aceh, terdiri atas:


1. Sultan Ali Mughayat Syah

Sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan itu, Sultan Ali Mughayat Syah adalah raja pertama dalam sejarah Kerajaan Aceh yang memerintah dari tahun 1514 hingga 1528. Selama masa itu, Sultan Ali memperluas ke beberapa daerah di wilayah Sumatera Utara, yaitu Daya dan Pasai daerah, dan mengadakan serangan terhadap pendudukan Portugis di Malaka dan serangan terhadap Kerajaan Aru. Serangan di wilayah Aru mempengaruhi wilayah Johor dan Portugal, yang menjadi pasukan bersenjata di wilayah Aru. Namun, upaya untuk menyerang ini gagal karena tentara telah dikalahkan oleh armada Portugis. Sultan Ali wafat pada tahun 1530, sehingga kepemimpinannya digantikan oleh putranya Salahuddin.


2. Sultan Salahudin

Pemerintahan Sultan Salahudin dimulai setelah kematian Sultan Ali Mughayat Syah. Wilayah kepemimpinan berkisar antara tahun 1530 M hingga 1537. Selama kepemimpinan Sultan Salahudin, Kerajaan Aceh menderita karena ketidakpastian dan kemunduran karena raja tidak merawat pemerintah dengan baik, yang mengarah pada pergantian kepemimpinan pada tahun 1537 Masehi. . di mana penerus Sultan untuk Salahudin adalah saudaranya Sultan Alaudin Riayat Syah.


3. Sultan Alaudin Riayat Syah

Sultan Alaudin Riayat Syah menjadi pemimpin Kerajaan Aceh dari tahun 1537 hingga 1568 Masehi. Pada masa pemerintahan Sultan Alaudin, kerajaan mengakui pengembangan salah satu kerajaan Aceh sebagai bandara utama di Asia bagi para pedagang Muslim asing. Ini semakin didukung oleh negara Malaka yang ditaklukkan oleh Portugis, sehingga pedagang lebih memilih untuk menghindari Jalan Malaka dan mengubah rute ke pantai barat Sumatera.

Peristiwa itu menempatkan Kerajaan Aceh dalam posisi yang strategis dan menjadi pelabuhan transit lada dari wilayah Sumatra dan rempah-rempah dari Maluku. Di sisi lain, posisi strategis ini menghadapi hambatan ketika Portugis, yang tahu tentang itu, terus menggunakan ancaman. Untuk menghadapi perlakuan dan persaingan Kerajaan Portugis Aceh dan kemudian membangun kekuatan angkatan laut yang kuat, ini dicapai dengan membangun hubungan diplomatik dengan Kerajaan Ottoman Turki, yang dianggap sebagai pemegang kedaulatan Islam tertinggi pada saat itu.


4. Sultan Iskandar Muda

Setelah masa pemerintahan Sultan Alaudin, masa pemerintahan kerajaan Aceh dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda, sebagaimana disebutkan pada awal pemerintahan, yang memuncak dalam kejayaan kerajaan Aceh. Sultan Iskanda muda mulai naik takhta di awal abad ke-17. Langkah-langkah yang diambil oleh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat posisi Kerajaan Aceh sebagai pusat perdagangan meliputi:


  • Merebut pelabuhan penting

Sultan Iskandar Muda berusaha mengendalikan wilayah di pantai barat dan timur Sumatra, seperti wilayah Johor dan Paahang. Ini dikatakan memperluas wilayah kerajaan Aceh, dan ukuran wilayah itu menunjukkan posisi kuat suatu kerajaan pada waktu itu.


  • Menyerang kedudukan portugis

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh melakukan serangan terhadap posisi Portugis di Malaka dan pada kapal Portugis yang mengarungi Selat Malaka. Dalam serangan 1614, Aceh telah memenangkan pertempuran melawan armada Portugis di sekitar pulau Bintan.


  • Melakukan hubungan dengan bangsa lain

Sultan Iskandar Muda bekerja dengan berbagai negara. Salah satunya bekerja dengan negara-negara Inggris dan Belanda untuk mendukung upaya melemahkan pengaruh Portugis pada waktu itu dan hubungan dengan kerajaan Turki.


5. Sultan Iskandar Thani

Setelah masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kendali Kerajaan Aceh digantikan oleh Sultan Iskandar Thani. Selama masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Thani membuat perkembangan dan kemajuan menuju Kerajaan Aceh yang berbeda dari para pemimpin yang berfokus pada pengembangan internal daripada ekspansi politik. Hal ini menyebabkan Kerajaan Aceh mengalami suasana yang damai karena tidak ada upaya untuk menyerang atau memperluas daerah tersebut, yang sering menyebabkan perang. Selama Sultan Iskandar thani, hukum yang ditegakkan di kerajaan adalah hukum yang didasarkan pada hukum Syariah Islam dan tidak hanya tergantung pada otoritas, yang sering diterapkan secara sewenang-wenang. Hubungan dengan daerah-daerah yang ditaklukkan juga baik dan tidak peduli dengan alasan politik dan militer.

Selama masa kepemimpinan Sultan Iskandar Thani, perhatian diberikan pada kemajuan studi agama Islam. Dapat dikatakan bahwa studi Islam telah berkembang di Kerajaan Aceh, didukung oleh ulama Gujarat besar bernama Nuruddin Arraniri, yang juga menulis sebuah buku tentang kisah Aceh yang berjudul Bustanus Salatin.


Keadaan Perekonomian Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh, yang terletak di daerah pengiriman dan komersial di Jalan Malaka, berfokus pada laju perkembangan ekonomi di bidang perdagangan. Sebagaimana dijelaskan di atas, pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah, Aceh telah menjadi bandara penting di Asia bagi para pedagang asing seperti Belanda, Inggris, Arab, Persia, dan Turki.

Sebagian besar barang yang diperdagangkan oleh Aceh adalah lada, beras, mineral seperti timah, perak dan emas serta rempah-rempah dari Maluku. Dan di wilayah Aceh ada pedagang asing yang menawarkan barang. Dalam hal ini, ini dapat digambarkan sebagai proses impor, misalnya produk porselen dan sutra dari pengecer Jepang dan Cina, serta produk parfum dari negara-negara Eropa. Kapal dagang Aceh juga aktif berdagang di Laut Merah.

Kehidupan orang-orang di Kerajaan Aceh mengakui struktur sosial, yang terdiri dari empat kelompok, yaitu kelompok Teuku atau kaum bangsawan, yang memiliki wewenang dalam kekuasaan administrasi sipil. Kelompok kedua adalah kelompok Tengku, yang terdiri dari para cendekiawan agama yang berperan dalam bidang keagamaan. Kelompok ketiga terdiri dari Yairu Hulubalang atau Ulebalang dari para prajurit dan orang-orang biasa. Perbedaan antara kelompok kadang-kadang menyebabkan kompetisi yang umum di antara kelompok Tengku dan Teuku.

Selain itu, kehidupan budaya tidak dikenal selama Kerajaan Aceh. Perkembangan budaya yang jelas adalah pembangunan Masjid Baiturrahman, yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.


Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh

Setelah masa pemerintahan Iskandar Thani, sejarah Aceh mulai menurun. Pada saat itu, Aceh tidak dapat melakukan perubahan besar apa pun yang dapat dihindari oleh sebagian besar wilayah yang dikuasai pemerintah. sehingga pemerintah tidak mampu membuat Aceh memainkan perannya sebagai pusat perdagangan strategis. Inilah alasannya – karena pemerintah Aceh mengalami kemunduran:


1. Tidak ada pengganti raja

Karena pemerintah menyerang kembali Aceh, salah satunya dimulai setelah kematian Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636, karena setelah itu tidak ada lagi raja yang dapat memerintah dan mengendalikan wilayah Kerajaan Aceh yang luas. Penurunan kerajaan itu terasa selama masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani dan memiliki dampak yang signifikan setelah kematian Sultan Iskandar Thani. Di sisi lain, kemerosotan pemerintah juga disebabkan oleh perjuangan memperebutkan takhta di antara pewaris silsilah Kesultanan.


2. Perselisihan

Perselisihan Kerajaan yang terus memburuk yang terus terjadi antara kaum bangsawan dan ulama di Aceh akan memengaruhi pemerintah persatuan internal sampai pemerintah Aceh melemah. Perbedaan aliran agama juga dapat menyebabkan perselisihan dalam tubuh para ulama.


3. Publikasi regional

Selain itu, beberapa daerah seperti Pahang, Johor, Perak, Rumah dan Siak telah menaklukkan banyak daerah untuk melarikan diri karena keadaan Aceh yang memburuk, dan pengaruh Belanda telah berkembang menjadi daerah yang bebas dan independen dari kekuatan asing ( Belanda).


Demikian Pembahasan Tentang 5 Silsilah Raja Kerajaan Aceh Beserta Masa Perkembangannya dari Pendidikanmu
Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca :)

Baca Artikel Lainnya:

/* */