Materi Yurisprudensi

Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Yurisprudensi? Admin pendidikanmu akan berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain: pengertian, syarat, asas dan jenis.

Yurisprudensi

Pengertian Yurisprudensi

Kata yurisprudensi ini berasal dari bahasa Latin “jurisprudentia” yang berarti “pengetahuan hukum.” Dan dalam bahasa Belanda nya ialah “jurisprundentie.”

Sedangkan dalam bahasa Perancis ialah “jurisprudence”, Makna yang berkeinginan ditunjuk yakni tidak cukup lebih sesuai dengan “hukum peradilan”.

Sementara tersebut kata, “jurisprudence” dalam bahasa Inggris ini bermakna sebagai “teori ilmu hukum”, yang lazim dinamakan dengan “general theory of law (algemene rechtler)”. Sedangkan guna dapat menunjuk definisi hukum peradilan dalam bahasa Inggris dipakai juga istilah “case law atau judge law-made law.”

Yurisprudensi pun mempunyai pengertian bertolak belakang di negara yang menganut suatu sistem hukum Anglo Saxon dan sistem hukum Eropa Kontinental.

Di negara-negara Anglo Saxon laksana di negara Amerika dan Inggris, yurisprudensi ini memiliki makna ilmu hukum dan dinamakan sebagai preseden.

Sedangkan negara yang menganut suatu sistem hukum Eropa Kontinental laksana negara Belanda, Jerman, Perancis tergolong Indonesia menafsirkan yurisprudensi merupakan sebagai putusan pengadilan.

Yurisprudensi ialah sekian banyak keputusan-keputusan dari hakim terlampau guna dapat menghadapi suatu permasalahan yang tidak ditata di dalam UU dan pun dijadikan sebagai pedoman untuk para hakim yang beda untuk dapat menyelesaian suatu permasalahan yang sama.


Latar Belakang Yurisprudensi

Lahirnya Yurisprudensi ini dilatarbelakangi oleh adanya ketentuan UU yang tidak jelas atau pun masih kabur, sampai-sampai dapat menyulitkan hakim dalam menciptakan keputusan tentang suatu perkara.

Hakim dalam urusan ini pun membuat sebuah hukum baru dengan mempelajari putusan hakim yang mula-mula untuk dapat menanggulangi perkara yang sedang dihadapi.

Jadi, putusan dari hakim mula-mula inilah yang lantas disebut pun dengan istilah yurisprudensi.


Syarat-Syarat Yurisprudensi

  • Putusan yang memiliki suatu kekuatan hukum yang tetap atau inkracht van gewijs yang bakal menghasilkan sebuah keadilan untuk pihak-pihak yang bersangkutan.
  • Putusan yang ada mesti telah berulang-ulang sejumlah kali atau dapat dilaksanakan dengan sebuah pola yang sama dibeberapa lokasi berpisah.
  • Norma yang terdapat di dalamnya ini memang tidak ada dalam suatu ketentuan tertulis yang berlaku, kalaupun terdapat tidak begitu jelas.
  • Putusan tersebut pun telah mengisi syarat sebagaimana yang telah disebutkan dengan yurisprudensi dan diusulkan oleh semua tim penilai yang sudah disusun oleh Mahkamah Agung atau pun Mahkamah Konstitusi.

Asas-Asas Yurisprudensi

1. Asas Precedent yang dianut oleh sekian banyak negara-negara anglo saxon laksana Inggris dan Amerika, dapat disebutkan bahwa hakim terbelenggu pada sebuah keputusan hakim yang tedahulu dari hakim yang sama derajatnya atau yang lebih tinggi.

Jadi, hakim mesti pun berpedoman pada putusan pengadilan tertdahulu bilamana ia dihadapkan pada sebuah peristiwa. Di sini, hakim akan beranggapan secara induktif.

Berdasarkan keterangan dari R. Soeroso, asas precedent atau stare decisis berlaku menurut 4 faktor, yaitu laksana berikut :

  • Bahwa penerapan dari sebuah peraturan-peraturan yang sama pada kasus-kasus yang sama bakal menghasilkan perlakuan yang sama, untuk siapa saja atau yang datang dan menghadap pada pengadilan.
  • Bahwa mengekor precedent secara konsisten dapat pun menyumbangkan pendapatnya dalam masalah-masalah di lantas hari.
  • Bahwa pemakaian suatu kriteria yang mantap guna dapat menanam masalah-masalah yang baru bisa menghemat masa-masa dan tenaga.
  • Bahwa pemakaian sebuah putusan-putusan yang lebih dulu mengindikasikan adanya keharusan untuk memuliakan sebuah kearifan dan empiris dari pengadilan pada generasi sebelumnya.

Sekalipun terbelenggu pada yurisprudensi dari hakim terdahulu, ada sejumlah hal-hal tertentu yang menjadi pengecualiannya, yaitu laksana berikut :

  • Apabila sebuah penerapan dari keputusan yang dahulu pada peristiwa yang kini dihadapi di anggap jelas-jelas tidak akan berdalih dan tidak pada tempatnya.
  • Sepanjang tentang dictum, keputusan hakim yang mula-mula tidak dibutuhkan dalam penciptaan keputusan.

2. Asas Bebas ialah salah satu asas yurisprudensi yang adalahsuatu kebalikan dari asas precedent. Asas ini pun dianut oleh negara yang menganut sistem hukum Eropa Continental laksana di negara Belanda, Jerman, Perancis, dan Italia.

Asas bebas yang mengaku bahwa hakim tidak terbelenggu pada putusan hakim sebelumnya yang telah berstasus sama ataupun lebih tinggi tingkatannya. Di sini, hakim pun akan beranggapan secara deduktif.

Di Indonesia, kita pun mengenal kedua asas yurisprudensi tersebut. Asas bebas untuk para peradilan barat dan asas precedent untuk peradilan adat.


Fungsi Yurisprudensi

  1. Ditegakkannya sebuah kepastian hukum.
  2. Untuk bisa mewujudkan keseragaman pandangan hukum yang sama.
  3. Dijadikan sebuah landasan hukum.
  4. Terciptanya sebuah standar hukum.

Unsur-Unsur Yurisprudensi

  1. Memenuhi sebuah kriteria adil.
  2. Keputusan atas sesuatu yang tidak jelas pada pengaturannya.
  3. Terjadi berulang kali dengan sebuah permasalahan sama.
  4. Telah dibetulkan oleh MA.
  5. Keputusan yang tetap.

Jenis-Jenis Yurisprudensi

Berikut ini terdapat jenis-jenis yurisprudensi, terdiri atas:


1. Yurisprudensi Tetap

Pengertian Yurisprudensi Tetap yakni sebuah putusan dari hakim yang terjadi oleh sebab sebuah susunan putusan yang sama dan dijadikan sebagai dasar untuk pengadilan guna dapat menyimpulkan suatu perkara.


2. Yurisprudensi Tidak Tetap

Pengertian Yurisprudensi Tidak Tetap merupakan suatu putusan dari hakim mula-mula yang tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk pengadilan.


3. Yurisprudensi Semi Yuridis

Pengertian Yurisprudensi Semi Yuridis yaitu seluruh penetapan pengadilan yang didasarkan pada suatu permohonan seseorang yang berlaku khusus melulu pada pemohon. Contohnya yakni : Penetapan kedudukan anak.


4. Yurisprudensi Administratif

Pengertian Administratif ialah SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) yang berlaku melulu secara administratif dan pun mengikat intern di dalam lingkup pengadilan.


Manfaat Yurisprudensi

  1. Sebagai suatu pedoman untuk hakim untuk menuntaskan perkara yang sama.
  2. Membantu untuk menyusun Hukum Tertulis.

Proses Yurisprudensi

Berikut ini terdapat proses yurisprudensi, terdiri atas:


1. Eksaminasi

Proses ini adalah sebuah proses dimana menganalisis dan mengecek suatu keputusan.


2. Notasi

Adalah sebuah proses keterangan yang mempunyai sifat sementara atau permanen yang disalin menurut sebuah perkara.


Contoh Yurisprudensi

  • Yurisprudensi yang dapat mengaku listrik ialah benda dalam permasalahan pencurian listrik, meskipun secara nyata listrik tidak berwujud.
  • Yurisprudensi yang pun menyatakan bahwa permohonan kasasi atau gugatan pribumi yang tidak jelas tanpa dijelaskannya sebuah dalil ketidakjelasannya dapat diurungkan oleh MA.
  • Yurisprudensi yang mengaku supaya pengecekan anak dibawah umur dilaksanakan secara tertutup cocok dengan asas-asas peradilan anak.
  • Yurisprudensi yang bisa menyatakan supaya perwalian anak diserahkan kepada ibu andai anak itu masih berada pada umur yang memerlukan kasih sayang orang tuanya.
  • Yurisprudensi yang akan mengaku bahwa jual beli yang objeknya tidak ada ialah tidak sah.

Dasar Hukum Yurisprudensi

Yurisprudensi didasari oleh UU No. 48 Tahun 2009 Mengenai sebuah Kekuasaan Kehakiman.

Isi Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 :

“Pengadilan tidak boleh menampik untuk dapat mengecek perkara, mengadili perkara dan menyimpulkan perkara yang dikemukakan dengan berbagai dalil hukum tidak terdapat atau tidak cukup jelas (kabur), tetapi wajib mengecek serta mengadilinya.

Hakim diharuskan untuk dapat menggali, mengekor dan mengetahui keadilan dan nilai-nilai hukum yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.”


Pertimbangan Hakim Menggunakan Putusan Hakim Lain

  • Pertimbangan Psikologis sebab sebuah keputusan hakim memiliki kekuatan atau dominasi hukum, khususnya keputusan Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, maka seringkali hakim bawahan segan guna tidak dapat mengekor keputusan tersebut.
  • Pertimbangan Praktis sebab dalam sebuah permasalahan yang sama sudah ada putusannya dari hakim terdahulu, terlebih lagi andai suatu putusan tersebut telah diperkuat oleh pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung.
  • Pendapat Yang Sama sebab para hakim yang terkaitsependapat dengan keputusan hakim beda yang lebih dahulu, terutama bilamana isi dan suatu tujuan undang-undang telah tidak lagi cocok dengan suasana sosial yang nyata pada masa-masa kemudian, maka telah wajarlah andai suatu keputusan hakim lain tersebut dipergunakan.

Demikian Pembahasan Tentang Jenis-Jenis Yurisprudensi: Pengertian, Latar Belakang, Syarat, Asas, Fungsi, Unsur, Manfaat, Proses, Contoh, Dasar dan Pertimbangan dari Pendidikanmu
Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca :)

Baca Artikel Lainnya:

/* */